800 Rekening Terkait Jiwasraya Diblokir, Analis: Sentimen Negatif

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantor Pusat Asuransi Jiwasraya di kawasan Harmoni, Jakarta. Tempo/Tony Hartawan

    Kantor Pusat Asuransi Jiwasraya di kawasan Harmoni, Jakarta. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis Pasar Saham, Hans Kwee mengungkapkan sejumlah faktor yang masih akan memberi tekanan pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pekan depan. Salah satunya adalah pemblokiran 800 rekening efek terkait Kasus Jiwasraya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    “Pembekuan 800 rekening nasabah kami perkirakan akan menimbulkan sentimen negatif di pasar,” kata Hans dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu, 25 Januari 2020.

    Melihat pola IHSG uang turun hampir sepekan penuh, kata Hans, maka ada membuka peluang IHSG rebound, tapi terbatas. Adapun support IHSG, kata dia, yaitu di level 6218 sampai 6200 dan resistance IHSG di level 6256 sampai 6312. “Cenderung BOW di pasar,” ujar Hans.

    Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meminta PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memblokir sebanyak 800-an rekening efek. Pemblokiran atau suspensi ini berkaitan dengan skandal korupsi dan gagal bayar yang terjadi di Jiwasraya.

    "Jumlahnya mungkin terus berkembang, bisa melebihi angka itu. Saat ini, OJK dan Kejagung masih terus berkoordinasi secara intensif untuk kasus Jiwasraya ini," kata Deputi Komisioner Humas dan Manajemen Strategis OJK Anto Prabowo saat dihubungi pada Jumat, 24 Januari 2020.

    Selain pembekuan 800 rekening ini, Hans menyebut kisruh pembubaran reksadana juga terbukti masih menekan kinerja IHSG. Beberapa pekan terakhir, kata dia, IHSG beberapa kali mengalami tekanan turun. Padahal, ada optimisme penandatangan fase satu perang dagang AS-China

    Ketika Dow membuat rekor kenaikan baru, IHSG juga masih tertekan akibat aksi jual reksadana yang dibubarkan. Selain itu, beberapa saham blue chip di dalam list produk yang di bubarkan telah mengalami tekanan jual. 

    Menurut dia, lebih dari 35 reksadana mengalami penurunan NAB (Nilai Aktiva Bersih) lebih dari 50 persen. Penurunan terjadi ketika mereka melakukan rebalancing untuk mengembalikan dana nasabah. “Ini juga pasti akan menekan indeks kedepannya,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.