Pesan Menhub ke Dirut Baru Garuda soal Hubungan dengan Sriwijaya

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Menteri Agama Lukman Saifuddin berada di pesawat Boeing 747-400 yang tak lagi dioperasikan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. di Cengkareng, 9 Oktober 2017. Tempo/Vindry Florentin

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama Menteri Agama Lukman Saifuddin berada di pesawat Boeing 747-400 yang tak lagi dioperasikan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. di Cengkareng, 9 Oktober 2017. Tempo/Vindry Florentin

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan harapannya terhadap kinerja dewan direksi baru PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Salah satunya terkait hubungan manajemen dengan perusahaan penerbangan Sriwijaya Air Group yang sempat memanas pada akhir tahun lalu.

    "Saya pikir (soal hubungan Garuda dan Sriwijaya), semua maskapai harus berkolaborasi," ujar Budi Karya di kantornya, Kamis, 23 Januari 2020.

    Budi Karya mengatakan perseroan tak mungkin berkiprah sendiri di dunia penerbangan. Sebab, menurut dia, maskapai pelat merah mesti membangun sinergi dengan maskapai lain meski tetap berkompetisi.

    Meski begitu, ia yakin dewan direksi baru perusahaan pelat merah ini memiliki cara yang baik untuk memperbaiki hubungan dengan Sriwijaya Air. Adapun terkait persaingan harga tiket pesawat, Budi Karya menyatakan kedua maskapai memiliki segmen pasarnya sendiri-sendiri. "Nanti kita atur mana yang Garuda dan bukan Garuda, bagaimana pricing-nya."

    Sriwijaya sempat memutus kerja sama manajemen dengan Garuda Indonesia. Hubungan yang dibangun kedua pihak sejak November 2018 retak pada pertengahan 2019 akibat konflik kepentingan pemegang saham Sriwijaya dengan jajaran manajemen yang diutus Garuda.

    Konflik itu memuncak pada akhir September 2019. Masalah itu membuat Garuda menarik layanan perawatan dan perbaikan teknis (maintenance, repair, overhaul/MRO), termasuk mesin pesawat yang disewakan.

    Sejak itu, Sriwijaya Air hanya mengoperasikan 12 dari sekitar 30 unit pesawat yang dimiliki perusahaan. Lantaran minim suku cadang (spare-part), hanya 10 pesawat Sriwijaya Air yang mengudara hingga hari ini.

    Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Irwin Jauwena pada pekan lalu memungkinkan entitasnya menjalin kerja sama lagi dengan Garuda Indonesia. Namun, kerja sama itu sebatas hubungan business to business (b to b).

    Sriwijaya, kata Jefferson, akan membuka diri setelah menyelesaikan urusan liabilitasnya dengan Garuda Indonesia. "Sekarang kami sedang meminta auditor independen mengaudit tanggungan, termasuk dengan Garuda," ucapnya kala itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.