Dirut Baru Garuda Akan Pacu Porsi Pendapatan Non-Tiket

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA), dan Pesawat Garuda Indonesia. Dok.TEMPO/ Dimas Aryo

    Pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA), dan Pesawat Garuda Indonesia. Dok.TEMPO/ Dimas Aryo

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., Irfan Setiaputra, mengatakan akan meningkatkan pendapatan perusahaan dari sisi non-tiket. Rencana itu bakal dibicarakan dalam rapat konsolidasi perdana antara Dewan Komisaris dan Dewan Direksi Garuda Indonesia hari ini, Kamis, 23 Januari 2020.

    "Manajemen baru akan melihat dan memikirkan kemungkinan untuk meningkatkan (pendapatan) non-tiket," ujar Irfan saat dihubungi Tempo pada Kamis pagi.

    Irfan mengatakan, sumber pendapatan non-tiket yang mungkin akan dapat diperluas jangkauannya adalah segmen bisnis kargo. Pada 2018 lalu, pendapatan bisnis kargo Garuda mencapai sekitar US$ 258,62 juta.

    Adapun manajemen lama Garuda mengatakan, bisnis kargo tumbuh lebih pesat ketimbang segmen penumpang. Rerata, pertumbuhan kargo bisa menyentuh angka 11 persen. Sedangkan segmen bisnis penumpang hanya tumbuh sekitar 5 persen.

    Irfan memastikan, dalam waktu dekat, manajemen akan kembali meninjau kondisi bisnis kargo. "Apakah sudah optimal atau belum," tuturnya.

    Selanjutnya, Garuda Indonesia akan membuka kesempatan bekerja sama dengan stakeholder lain untuk menciptakan peluang-peluang bisnis. "Artinya kerja sama iklan, pariwisata. Garuda nantinya harus jadi ujung tombak pariwisata," tuturnya.

    Irfan mengimbuhkan, Garuda juga akan memperbaiki hubungan dengan pihak-pihak yang bersinggungan secara langsung dengan entitasnya. Misalnya dengan PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), dan PT Pertamina (Persero).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.