Merpati Jajaki Potensi Bisnis Kargo dan MRO di Afrika

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA), dan Pesawat Garuda Indonesia. Dok.TEMPO/ Dimas Aryo

    Pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA), dan Pesawat Garuda Indonesia. Dok.TEMPO/ Dimas Aryo

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Merpati Nusantara Airlines berencana mengembangkan bisnisnya ke benua Afrika. Dalam ekspansi ini, perseroan berkolaborasi dengan perusahaan asal Amerika Serikat The Sandi Group (TSG) Global Holdings.

    Keduanya akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan penerbangan di Afrika, terutama di Democratic Republic of the Congo (DRC), untuk membuka rute pengangkutan kargo Indonesia-Afrika.

    Selain itu, lingkup kerja sama keduanya mencakup bisnis maintenance repair and overhaul (MRO) dan training centre.

    Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Asep Ekanugraha mengatakan perseroan melihat potensi bisnis di wilayah Afrika dan walaupun saat ini masih dalam proses restrukturisasi, maskapai pelat merah ini memiliki dua anak usaha yang dapat berkontribusi di DRC.

    "Kami melihat ternyata ada ruang untuk kolaborasi di MRO business atau bengkel pesawat dan juga sektor lainnya. Kemungkinannya tidak hanya di satu tempat, tetapi kami bisa berkembang di tiga negara Afrika," ujarnya di Jakarta, Rabu, 22 Januari 2020).

    Selain bisnis bengkel pesawat, Merpati bisa mengembangkan unit pelatihan sumber daya manusia karena memiliki anak perusahaan di sektor training center. Menurut Asep, dalam ekspansi bisnis ke Afrika ini mutlak diperlukan kolaborasi dengan perusahaan setempat karena berdasarkan aturan internasional diwajibkan bekerja sama dengan local company.

    "Kami melihat bahwa ini kesempatan yang bagus untuk Merpati reborn dengan kekuatan yang ada, meskipun mungkin sebagian harus diinisiasi juga di tempat lain," ujar Asep.

    Selain dengan Merpati, TSG Global Holdings bersama PT TSG Utama Indonesia dan Titan Global Capital Pte Ltd bekerja sama dengan sembilan perusahaan Indonesia lainnya untuk ekspansi bisnis ke DRC

    Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari kegiatan Indonesia Africa Forum (IAF) 2018 dan Dialog Infrastruktur Asia Afrika 2019 yang dilaksanakan di Bali. Saat itu, Indonesia dan Afrika bersepakat untuk menjajaki pengembangan bisnis baru di sektor industri strategis, infrastruktur, pembiayaan, pertambangan, pertanian, pemeliharaan pesawat dan perdagangan komoditas.

    "Skema kolaborasi atau kerja sama yang dilakukan terdiri dari operasi bersama bisnis. Ada beberapa juga yang joint venture, terutama dengan pihak swasta," kata CEO TSG Global Holdings Rubar Sandi dalam jumpa pers di Hotel The Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (22/1/2020).

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.