PUPR Targetkan Tiga Bendungan di Jatim Beroperasi Tahun Ini

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara pembangunan Bendungan Sukamahi di Bogor, Jawa Barat, Senin 20 Januari 2020. Bendungan Sukamahi yang memiliki konsep bendungan kering itu dibangun untuk mengendalikan aliran air dari hulu Sungai Ciliwung saat terjadi peningkatan debit air sehingga dapat mengurangi resiko banjir di Jakarta. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    Foto udara pembangunan Bendungan Sukamahi di Bogor, Jawa Barat, Senin 20 Januari 2020. Bendungan Sukamahi yang memiliki konsep bendungan kering itu dibangun untuk mengendalikan aliran air dari hulu Sungai Ciliwung saat terjadi peningkatan debit air sehingga dapat mengurangi resiko banjir di Jakarta. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan untuk menyelesaikan pembangunan tiga bendungan di Provinsi Jawa Timur.

    Ketiga bendungan tersebut, yakni Bendungan Bendo di Ponorogo, Bendungan Tukul di Pacitan dan Bendungan Gongseng di Bojonegoro. Ketiganya siap diisi (impounding) pada tahun ini. Pembangunan ketiga bendungan tersebut juga bertujuan memenuhi misi ketahanan pangan dan ketahanan air. 

    "Ketiganya merupakan bagian dari pembangunan 65 bendungan yang menjadi Program Strategis Nasional Pemerintah yang dikerjakan oleh Kementerian PUPR," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono melalui keterangan resmi di Jakarta, Rabu 22 Januari 2020.

    Ketiga bendungan di Jawa Timur tersebut merupakan bendungan multiguna yang berfungsi sebagai pengendali banjir, sumber air baku, sumber air daerah irigasi dan juga pembangkit listrik.

    Bendungan Bendo memiliki kapasitas cukup besar, yakni bisa menampung 43,11 juta meter kubik air untuk suplai irigasi di Kabupaten Madiun dan Kabupaten Ponorogo seluas 7.800 hektare.

    Selain itu, bendungan ini bisa menyalurkan air baku sebesar 780 liter per detik, pembangkit listrik sebesar 4 MW dan mereduksi banjir 490 meter kubik per detik. 

    Bendungan Bendo dengan tinggi 71 meter ini dibangun mulai 2013 dan selesai pada 2020. Konstruksi dikerjakan oleh PT Wijaya Karya, PT Hutama Karya dan PT Nindya Karya (KSO) dengan nilai kontrak Rp709,4 miliar.

    Bendungan kedua, yakni Bendungan Tukul mampu menampung 8.68 juta meter kubik air untuk menyuplai irigasi seluas 600 hektare dan air baku 300 liter per detik.

    Bendungan ini juga berfungsi mengurangi banjir di Pacitan karena bendungan ini diharapkan untuk mengendalikan debit banjir yang berasal anak Sungai Grindulu.

    Menurut Basuki, tidak ada kesulitan dalam teknik konstruksi bendungan.

    Tantangannya adalah pada tebing di sekitar lokasi bendungan yang rentan longsor. Oleh karenanya penanganan longsor yang sudah dilakukan akan ditambah dengan pembuatan sabo dam untuk menahan pasir dan batu dari hulu sungai.

    "Lansekap di sini juga ditata karena Pacitan memiliki pemandangan bagus dan menjadi tujuan wisata. Tampungan air di Pacitan akan kita tambah karena Pacitan termasuk daerah kering," kata Basuki.

    Pembangunan bendungan Tukul yang dimulai pada 2013 hingga 2020 ini dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya dengan nilai kontrak Rp636 miliar.

    Bendungan ketiga yang akan dituntaskan di akhir 2020 di Jawa Timur adalah Bendungan Gongseng yang dibangun mulai 2013 hingga 2020 dengan kapasitas tampungan 22,43 juta meter kubik.

    Bendungan yang terletak di Kabupaten Bojonegoro ini berfungsi untuk melayani irigasi seluas 6.191 hektare, layanan air baku 300 liter per detik, mereduksi banjir 133,27 meter kubik per detik dan pembangkit tenaga listrik sebesar 0,7 MW.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.