Gubernur BI: Penguatan Rupiah Sejalan dengan Fundamental Ekonomi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai memberikan key note speech dalam acara Simposium Asia's Trade and Economic Priorities 2020, di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Selasa 29 Oktober 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ditemui usai memberikan key note speech dalam acara Simposium Asia's Trade and Economic Priorities 2020, di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan, Selasa 29 Oktober 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat, sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia. Hal itu kata dia, juga sejalan dengan mekanisme pasar.

    "Dan itu mencerminkan kredibilitas kebijakan dari pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan," kata Perry di Gedung Djuanda Kemenkeu, Jakarta, Rabu, 22 Januari 2020.

    Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat menguat sejak awal tahun. Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR tercatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di angka Rp 13.678 pada 22 Januari 2020. Angka tersebut menunjukkan penguatan 221 poin dari nilai sebelumnya yang sebesar Rp 13.899 pada 3 Januari 2019.

    Perry menyebutkan saat ini fundamental ekonomi Indonesia terjaga baik. Hal itu dilihat dari tingkat inflasi yang rendah, ekonomi yang terus tumbuh, hingga neraca pembayaran yang diperkirakan surplus.

    Derasnya aliran modal asing masuk ke dalam negeri, kata dia, juga turut mendorong penguatan nilai tukar rupiah. "Jadi ini juga masih sejalan dengan mekanisme pasar," ujar Perry.

    Dia menuturkan penguatan kurs rupiah terhadap dapat mendorong peningkatan investasi dalam negeri, karena banyak industri yang memiliki kandungan impor tinggi. Ongkos impor pun menjadi lebih murah yang berdampak positif bagi importir.

    Selain itu, kata Perry, penguatan rupiah mendorong peningkatan ekspor, khususnya di sektor manufaktur. Biaya impor yang menjadi lebih murah, membuat aktivitas industri manufaktur yang berbasis ekspor lebih terdorong.

    "Eksportir memang lebih senang rupiah melemah, karena nilai rupiahnya dari hasil ekspor itu lebih besar, jadi bukan nilai jual tapi nilai rupiahnya," kata Perry.

    Sebelumnya Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan penguatan nilai tukar rupiah perlu diwaspasai dan hati-hati. "Ada yang senang dan ada yang tidak senang, eksportir tentu tidak senang. Karena rupiah menguat, menguat, menguat sehingga daya saing kita juga akan menurun," katanya dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Kamis, 16 Januari 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.