Penyebaran Virus Corona Cina Meluas ke AS, Harga Minyak Jeblok

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kilang minyak Saudi Aramco yang rusak akibat serangan sejumlah drone di Abqaiq, Arab Saudi, 20 September 2019. Dikabarkan kilang minyak Khurais diserang dengan empat rudal. REUTERS/Hamad l Mohammed

    Kilang minyak Saudi Aramco yang rusak akibat serangan sejumlah drone di Abqaiq, Arab Saudi, 20 September 2019. Dikabarkan kilang minyak Khurais diserang dengan empat rudal. REUTERS/Hamad l Mohammed

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga minyak mentah turun pada perdagangan Selasa, 21 Januari 2020 di tengah menjalarnya kekhawatiran mengenai kelebihan suplai dan wabah virus corona baru dari China.

    Namun, minyak mampu mengurangi sebagian penurunannya, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran tentang gangguan suplai di Irak dan Libya.

    Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak Brent untuk kontrak Maret 2020 ditutup turun 61 sen di level US$ 64,59 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

    Adapun minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari turun 20 sen dan berakhir di level US$58,34 per barel di New York Mercantile Exchange.

    Dilansir dari Bloomberg, krisis pelabuhan Libya yang mencekik ekspor dari pemasok minyak terbesar di Afrika Utara berlanjut hingga hari keempat. Sementara itu, merebaknya kerusuhan di Irak mengancam pengiriman dari produsen nomor dua OPEC tersebut.

    Pemimpin milisi Libya Khalifa Haftar telah memblokir pelabuhan-pelabuhan dalam aksi unjuk rasanya setelah para pemimpin dunia gagal membujuknya untuk menandatangani perjanjian damai.

    Di Irak, aksi protes menyebabkan terhentinya produksi di satu ladang minyak. Selain itu, sejumlah roket dilaporkan menghantam Zona Hijau di Baghdad.

    “Gangguan di Libya sangat signifikan karena ada banyak permintaan untuk minyak mentah light sweet di antara para penyuling yang berupaya untuk mematuhi aturan bahan bakar lebih ketat,” tutur Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group Inc.

    Meski demikian, sentimen terkait melonjaknya produksi minyak shale AS tetap membebani pergerakan harga minyak. Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia, sehingga mengurangi prospek permintaan bahan energi.

    Harga minyak juga tertekan karena virus corona (coronavirus) baru yang telah menelan enam korban jiwa di China dilaporkan menyebar ke AS. “Jelas ada banyak kekhawatiran tentang virus ini di China,” ujar Josh Graves, ahli strategi pasar senior di RJ O'Brien & Associates LLC.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.