Krisis Akibat 737 Max, Boeing Dikabarkan Cari Pinjaman Rp 136 T

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pangkogabwilhan 1 Laksamana Madya TNI Yudo Margono bersiap mengikuti patroli udara dengan Pesawat Boeing 737 Intai Strategis AI-7301 Skadron Udara 5 Wing 5 TNI AU Lanud Sultan Hasanudin Makassar di Lanud Raden Sadjad, Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu, 4 Januari 2020.  ANTARA/M Risyal Hidayat

    Pangkogabwilhan 1 Laksamana Madya TNI Yudo Margono bersiap mengikuti patroli udara dengan Pesawat Boeing 737 Intai Strategis AI-7301 Skadron Udara 5 Wing 5 TNI AU Lanud Sultan Hasanudin Makassar di Lanud Raden Sadjad, Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu, 4 Januari 2020. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, JakartaBoeing Co. dikabarkan tengah mencari pinjaman senilai US$ 10 miliar (sekitar Rp136,6 triliun) atau lebih di tengah meningkatnya beban perusahaan setelah tragedi dua kecelakaan pesawat jet 737 MAX. Boeing disebut sedang dalam pembicaraan dengan sejumlah bank terkait pinjaman tersebut, ungkap seorang sumber kepada Reuters.

    Kabar tersebut pertama kali dilaporkan oleh CNBC. Menurut laporan CNBC, sejauh ini Boeing telah mengamankan pinjaman, setidaknya US$ 6 miliar dari bank dan tengah dalam pembicaraan dengan pemberi pinjaman lain.

    Dilansir Reutes, Selasa, 21 Januari 2020, seorang sumber mengonfirmasi adanya negosiasi pinjaman tersebut. Namun belum diketahui secara jelas berapa banyak pinjaman yang diincar Boeing dan apakah perusahaan akan menerbitkan obligasi baru. Salah satu masalah utama untuk Boeing adalah fleksibilitas karena tidak jelas berapa lama 737 MAX dilarang terbang. Terkait laporan ini, Boeing menolak berkomentar.

    Reuters melaporkan pada Jumat pekan lalu bahwa Federal Aviation Administration untuk sekarang ini tidak mungkin menyetujui 737 MAX mengudara sampai Maret, bisa jadi hingga April atau bahkan lebih lama lagi.

    Boeing mengkonfirmasi pada Senin bahwa mereka menghentikan sementara produksi 737 MAX di Negara Bagian Washington dalam beberapa hari terakhir. Sedangkan pada Desember tahun lalu perusahaan telah menyatakan akan menghentikan produksi di beberapa titik pada bulan ini.

    “Produksi MAX sekarang telah ditangguhkan sementara di dalam pabrik 737. Situs Renton tetap terbuka karena tim kami memfokuskan pekerjaan mereka pada beberapa inisiatif kualitas, ” kata Boeing, merujuk pada fasilitasnya di Renton, Washington, Amerika Serikat.

    Perusahaan memperkirakan kerugian akibat larangan terbang 737 MAX mencapai lebih dari US$ 9 miliar hingga saat ini. Boeing menghadapi tekanan kenaikan biaya dari penghentian produksi pesawat 737 MAX.

    Analis memperkirakan Boeing telah kehilangan pendapatan sekitar US$ 1 miliar per bulan karena tidak beroperasinya pesawat 737 MAX. Boeing melaporkan arus kas bebas negatif hampir US$3 miliar pada kuartal ketiga tahun lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.