Pengembangan Bandara Komodo Labuan Bajo Butuh Investasi Rp 1,2 T

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana lengang di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. TEMPO/Rita Nariswari

    Suasana lengang di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. TEMPO/Rita Nariswari

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perhubungan dan pihak swasta saat ini tengah mengembangkan Bandara Komodo di Labuan Bajo melalui skema kerja sama pemerintah bersama badan usaha atau KPBU. Pengembangan bandara tersebut membutuhkan investasi sebesar Rp 1,2 triliun.

    Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, modal tersebut akan digunakan untuk membiayai penambahan fasilitas bandara, baik di sisi darat maupun udara, serta operasional bandara. Bandara Komodo di Labuan Bajo saat ini sedang disiapkan menjadi salah satu pintu gerbang bagi wisatawan asing masuk ke Indonesia.

    "Bandara Komodo akan menjadi pintu gerbang Labuan Bajo yang menjadi salah satu daerah dari lima destinasi wisata super prioritas atau 5 Bali Baru yang tengah disiapkan pemerintah," kata Budi Karya dalam keterangan tertulis pada Senin, 20 Januari 2020.

    Adapun melalui kerja sama tersebut, badan usaha akan memelihara seluruh infrastruktur bandara selama 25 tahun. Setelah masa kerja sama berakhir, badan usaha wajib menyerahkan seluruh infrastruktur dan fasilitas bandara kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

    Kemenhub sebelumnya telah mengumumkan konsorsium pemenang lelang untuk pengembangan Bandara Komodo, yakni PT Cardig Aero Service (CAS) yang beranggotakan Changi Airports International Pte Ltd. (CAI) dan Changi Airports MENA Pte Ltd pada akhir 2019 lalu. Penandatanganan nota kesepahaman pengembangan Bandara Komodo dengan konsorsium pemenang lelang pun akan dilaksanakan pada 7 Februari 2020.

    Setelah pengembangan selesai, Bandara Komodo akan mampu menampung pergerakan penumpang hingga 4 juta per tahun. Sedangkan kapasitas kargo mencapai 3.500 ton pada 2044.  Adapun landasan pacu pesawat akan diperpanjang dari 2.250 meter menjadi 2.750 meter. Sedangkan luas apron ditambah menjadi 20.200 meter persegi dan terminal domestik diperluas menjadi 6.500 meter persegi.

    "Kemudian, pembangunan terminal internasional seluas 5.538 meter persegi, pembangunan terminal kargo seluas 2.860 meter persegi, serta pembangunan beberapa fasilitas pendukung lainnya," ucap Budi Karya.

    Saat ini, Presiden Joko Widodo atau Jokowo juga tengah berkunjung ke Labuan Bajo untuk mengecek fasilitas dan infrastruktur pariwisata di sana. Jokowi bahkan sempat berwisata bahari dengan kapal pinisi untuk mengetahui kesiapan operator menyambut wisatawan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.