Asosiasi Prediksi Pengolahan Produk Perikanan Tumbuh 20 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (kanan) menyaksikan warga mengangkat gitik (sesaji) yang akan dilarung ke laut pada tradisi petik laut pancer di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu 8 September 2019. Tradisi Petik Laut yang digelar oleh nelayan setempat pada bulan Suro (penanggalan Jawa) itu,  sebagai permohonan kepada Tuhan agar hasil tangkapan melimpah serta diberi keselamatan saat berlayar mengarungi lautan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (kanan) menyaksikan warga mengangkat gitik (sesaji) yang akan dilarung ke laut pada tradisi petik laut pancer di Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu 8 September 2019. Tradisi Petik Laut yang digelar oleh nelayan setempat pada bulan Suro (penanggalan Jawa) itu, sebagai permohonan kepada Tuhan agar hasil tangkapan melimpah serta diberi keselamatan saat berlayar mengarungi lautan. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

    TEMPO.CO, SURABAYA - Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) memprediksi sektor pengolahan perikanan akan tumbuh sekitar 20 persen pada tahun 2020. Dengan catatan, kata dia, berbagai peraturan yang menghambat pengembangan bisa dihilangkan. 

    Ketua Umum AP5I Budhi Wibowo mengatakan secara umum industri perikanan Tanah Air saat ini masih tertinggal jauh dengan Vietnam. Ekspor perikanan Indonesia baru sekitar US$5 miliar, sedangkan Vietnam sudah mencapai sekitar US$9 miliar.

    "Untuk mengejar ketertinggalan itu, semua pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun swasta dituntut bahu-membahu, dan bisa menjalankan Inpres Nomor 7 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional," katanya, di Surabaya, Minggu 19 Januari 2020.

    Ia mengatakan dengan menjalankan Inpres Nomor 7 Tahun 2016 diprediksi industri perikanan bisa tumbuh sekitar 20 persen, ditambah syarat dan peraturan yang menghambat pengembangan dihilangkan. 

    Ia menyebutkan ekspor olahan perikanan tahun 2019 hanya tumbuh sekitar 5 persen dibandingkan 2018, dan permasalahan utama adalah kekurangan bahan baku ikan, sehingga utilitas mesin indsutri pengolahan ikan saat ini hanya di kisaran 50-60 persen dari kapasitas terpasang.

    Rendahnya utilitas, kata dia, menyebabkan industri pengolahan ikan memiliki daya saing lemah terhadap negara lain, seperti India, Vietnam dan Thailand.

    "Saat ini, KKP juga sedang melakukan kajian terhadap berbagai peraturan yang menghambat perkembangan industri perikanan," katanya.

    Untuk perikanan tangkap, kata dia, peraturan yang diharapkan menjadi prioritas segera direvisi yaitu pembatasan GT Kapal, larangan alih muat di laut yang akan digunakan untuk bahan baku Industri perikanan dan pelarangan berbagai alat tangkap.

    Jika revisi terhadap tiga peraturan tersebut telah dilakukan, otomatis nantinya akan diikuti dengan revisi terhadap berbagai peraturan lainnya.

    "Kalau semua itu beres, kami yakin hasil tangkapan ikan nelayan Indonesia akan semakin banyak, sehingga utilitas industri pengolahan dan ekspor juga pasti meningkat," tutur Budhi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.