Gaji Menteri Rp 19 Juta, Erick Thohir: Kita Ini Padamu Negeri

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Erick Thohir usai menghadiri pertemuan bersama pada duta besar di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Januari 2020. Tempo/Fajar Pebrianto

    Menteri BUMN Erick Thohir usai menghadiri pertemuan bersama pada duta besar di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Januari 2020. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta  - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut bahwa gaji seorang pejabat setingkat menteri seperti dirinya hanya berkisar Rp 19 juta per bulan. Jika dibandingkan pendapatannya saat menjadi pengusaha, gaji itu terasa kecil.

    "Untuk gaji menteri saya rasa jauh lah. Kita ini padamu negerinya luar biasa, cuma Rp 19 juta," ujarnya saat acara Millenial Summit 2020 di kawasan Darmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat 17 Januari 2020.

    Dengan gaji sebesar itu kata Erick, para menteri harus mengemban tugas yang besar dalam pengambilan keputusan. Dibandingkan dengan saat menjadi pengusaha swasta pun, kebijakan yang diambil lebih sangat berpengaruh pada orang banyak.

    "Padahal kebijakan itu yang kita ambil itu jauh lebih besar dibandingkan swasta maupun dari temen-temen perusahaan BUMN," ujar Erick Thohir.

    Ia menjelaskan, ketika menjadi pengusaha swasta dirinya merasa memberikan sumbangsih yang besar pula. Namun, terasa lebih bebas dalam mengambil keputusan, jika dibandingkan menjadi menteri seperti saat ini.

    "(Enak mana?) Pengusaha, lebih bebas, dan tentu sebenarnya kalau bicara kontribusi masyarakat sebenarnya sama juga," katanya.

    Erick Thohir mengatakan, ketika menjadi menteri kebijakan yang diambil akan sangat berpengaruh kepada seluruh masyarakat. "Cuma memang yang membedakan kementerian ada kebijakan yang besar untuk impactful masyarakat," katanya.

    Ia juga bercerita sempat merasa heran ketika seorang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral seperti Arifin Tasrif hanya diberikan fasilitas penerbangan kelas bisnis. Padahal, Direktur BUMN pertambangan diberikan kelas penerbangan paling mewah. Namun menurutnya, harus bisa dimengerti oleh semua pihak.

    "Kebayang enggak, Pak Arifin Tasrif beliau naik pesawat  di bisnis, dan Dirut Inalum di first class. Padahal kebijakan yang beliau ambil jauh lebih besar dari Dirut Inalum, hal-hal ini saya rasa perlu ada empati, saya rasa temen-temen di BUMN juga mengerti hal ini," Erick Thohir lagi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.