Pertumbuhan Ekonomi Cina Melambat, Harga Minyak Naik Tipis

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pencari kerja antre untuk mengisi aplikasi di

    Para pencari kerja antre untuk mengisi aplikasi di "job fair" di Beijing, Cina (25/3). Untuk menampung jutaan pencari kerja baru setiap tahunnya, pertumbuhan ekonomi Cina minimal harus 8 persen. Foto: AP/Greg Baker

    TEMPO.CO, JakartaHarga minyak naik tipis pada akhir perdagangan Jumat, karena melambatnya pertumbuhan ekonomi di Cina. Kondisi perekonomian dari negara importir minyak mentah terbesar di dunia ini kekhawatiran terhadap permintaan bahan bakar dan mengganjal optimisme dari penandatanganan kesepakatan dagang Cina-Amerika Serikat.

    Harga minyak mentah berjangka Brent sedikit menguat 23 sen menjadi US$ 64,85 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik tipis dua sen menjadi ditutup pada US$ 58,54 per barel. Untuk minggu ini, Brent turun 0,2 persen, sementara WTI kehilangan 0,8 persen.

    Pemerintah sebelumnya mengumumkan ekonomi Cina, yang terbesar kedua di dunia, tumbuh sebesar 6,1 persen pada 2019. Artinya, ini ekspansi paling lambat dalam 29 tahun. "Meningkatnya tekanan ekonomi mungkin akan membatasi kenaikan minyak dalam jangka menengah hingga jangka panjang," kata Margaret Yang, analis pasar di CMC Markets, Jumat, 17 Januari 2020.

    Namun kenaikan permintaan Cina, seperti terlihat pada angka hasil kilang, membantu mengimbangi data pertumbuhan ekonomi yang kurang positif. Sepanjang 2019, kilang-kilang Cina memproses 651,98 juta ton minyak mentah, setara dengan rekor tertinggi 13,04 juta barel per hari (bph) dan naik 7,6 persen dari 2018, data pemerintah menunjukkan. Hasil kilang juga mencatat rekor bulanan untuk Desember.

    "Peningkatan kapasitas kilang Cina membentuk kembali aliran perdagangan produk olahan, sementara peningkatan produksi minyak mentah AS membentuk kembali aliran perdagangan minyak mentah," kata Olivier Jakob dari konsultan Petromatrix.

    Harga minyak mentah sempat naik pada Kamis lalu setelah Cina dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian perdagangan Fase 1 mereka. Sebagai bagian dari kesepakatan, China berkomitmen untuk menambah US$ 54 miliar dalam pembelian energi.

    Meski begitu, ada yang skeptis tentang hasil dari kesepakatan itu. "Cina telah sepakat untuk membeli sejumlah besar minyak AS yang mungkin terbukti sulit dicerna," kata Jim Ritterbusch, presiden perusahaan penasihat perdagangan Ritterbusch and Associates, mengatakan dalam sebuah catatan. 

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.