Akan IPO di Semester I, Wika Realty Bidik Raup Dana Segar Rp 2 T

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 2 Januari 2020. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 2 Januari 2020. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. PT Wijaya Karya Realty bakal melantai di Bursa Efek Indonesia pada semester satu tahun ini. Saat ini, proses penawaran saham perdana (initial public offering atau IPO) Wika Realty sedang berada dalam proses tender lembaga penunjang dan telah mendapatkan izin dari Kementerian BUMN.

    "Underwriter lagi jalan. Harapannya di semester I bisa dilakukan,” ujar Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana, seusai acara Indonesia Millenial Summit (IMS) 2020 di Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020.

    Wika Realty merupakan anak usaha Wijaya Karya, emiten dengan kode saham WIKA. Perusahaan tersebut bergerak di bidang bisnis realty, developer, manajemen properti, dan jasa konstruksi.

    Perseroan menargetkan penghimpunan dana melalui IPO ini senilai Rp 2 triliun dengan jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 35 persen. Rencana IPO Wika Realty sebelumnya ditargetkan pada 2018, tetapi masih tertunda hingga saat ini.

    Sebelumnya perseroan merencanakan mendorong anak usahanya yang lain, yaitu Wika Industri & Konstruksi untuk IPO pada tahun lalu. Namun, belakangan Tumiyana menuturkan selain Wika Realty, perseroan belum berencana melepas anak usahanya ke publik pada 2020.

    Saat ini WIKA telah memiliki dua anak usaha yang telah menjadi perusahaan terbuka, yaitu PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) dan PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. (WEGE).

    Kementerian BUMN memang terus mendorong semakin banyak perusahaan pelat merah untuk go public atau melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan pihaknya memandang langkah ini merupakan hal baik dan ke depan akan lebih banyak entitas milik negara untuk menjadi perusahaan terbuka.

    Erick Thohir menjelaskan salah satu alasannya mendorong perusahaan pelat merah untuk melantai di bursa karena pengawasan menjadi lebih ketat. "Karena pengawasannya tidak hanya dari internal, tetapi juga shareholders partner sampai publik. Mekanisme perusahaan publik ada yang namanya pengawasan yang harus dilewati," ujarnya di Jakarta, Jumat pekan lalu.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara