Kemenparekraf Ingin Wisatawan Asing Tinggal Lebih Lama di RI

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan asing membawa seekor penyu hijau (Chelonia mydas) untuk dilepasliarkan di Pantai Kuta, Bali, 20 Desember 2019. TEMPO/Johannes P. Christo

    Wisatawan asing membawa seekor penyu hijau (Chelonia mydas) untuk dilepasliarkan di Pantai Kuta, Bali, 20 Desember 2019. TEMPO/Johannes P. Christo

    Tempo.Co, Jakarta - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menggenjot lama masa tinggal atau length of stay wisatawan asing di Indonesia menjadi tiga-empat kali lipat. Sebelumnya, rata-rata lama masa tinggal wisman hanya 3 hari 2 malam.

    "Kami ingin (wisman) 10 hari tinggal di Indonesia," ujar Asisten Deputi Investasi Pariwisata Kemenparekraf Hengky Manurung di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Kamis, 16 Januari 2020.

    Target ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk mengubah fokus capaian pariwisata ke depan. Pemerintah kali ini mematok target pencapaian di sektor pariwisata bukan lagi soa kuantitas atau jumlah kunjungan wismannya, namun kualitas atas kunjungan tersebut.

    Dengan waktu tinggal yang lebih lama, target terhadap pemerolehan devisa diharapkan akan lebih tinggi. Ia menghitung, seumpama saat ini seorang wisman mengeluarkan ongkos US$ 150-200 per hari di Indonesia, dalam waktu 10 hari, negara bisa mencaplok US$ 1.500-2.000 dari masing-masing turis.

    Meski begitu, bukan berarti target jumlah wisman melorot. Secara kuantitas, Kemenparekraf tetap menargetkan jumlah kunjungan wisman tahun ini lebih tinggi ketimbang tahun depan. Hingga akhir 2020 nanti, kementerian memperkirakan jumlah kunjungan wisman akan mencapai 17 juta orang.

    Angka ini lebih besar ketimbang realisasi kunjungan wisman pada 2019. Sepanjang tahun lalu, jumlah wisman datang ke Indonesia hanya mencapai 16,4 juta orang. Angka ini meleset dari target yang ditetapkan sebelumnya, yakni 20 juta wisman--yang kemudian dikoreksi menjadi 18 juta kunjungan.

    Berdasarkan asal wilayahnya, Kemenparekraf tengah membidik kunjungan wisatawan dari negara asal Benua Eropa, Amerika, dan Australia. Hengky menjelaskan, hal itu merujuk pada temuan Google Engine. "Berdasarkan informasi Google Engine, yang menjadi keywords untuk Indonesia itu Australia yang terbesar," ujarnya.

    Ia menyatakan, sebanyak 600 juta orang Australia mencari informasi tentang Indonesia. Selanjutnya, Amerika sebesar 400 juta, dan Jerman serta negara-negara di Eropa lainnya mencapai 360 juta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.