Rupiah Menguat, Jokowi: Ada yang Tidak Senang

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menghitung rupiah di VIP kawasan Cikini, Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019. Kurs rupiah menguat ke posisi Rp 13.947 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu, 6 Februari 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menghitung rupiah di VIP kawasan Cikini, Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019. Kurs rupiah menguat ke posisi Rp 13.947 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Rabu, 6 Februari 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Tempo.Co, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan nilai tukar rupiah menguat saat ini. Namun, penguatan rupiah yang terlalu cepat juga harus diwaspadai. 

    "Ada yang senang dan ada yang tidak senang, eksportir tentu tidak senang. Karena rupiah menguat, menguat, menguat sehingga daya saing kita juga akan menurun," kata Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Kamis, 16 Januari 2020.

    Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan masih lanjut menguat ditopang sentimen positif domestik dan global. Rupiah ditutup menguat 99 poin atau 0,72 persen di level Rp 13.673 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp 13.772 per dolar AS.

    Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Senin, 13 Januari 2020 mengatakan, meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah mengakibatkan harga minyak mentah dunia kembali melemah, bahkan menyentuh level terendah di 59 dolar per barel, yang berdampak positif bagi rupiah.

    "Kita harus tahu, bahwa saat ini Indonesia merupakan negara net importir minyak di kawasan Asia Tenggara sehingga akan memberi tekanan terhadap mata uang garuda. Saat harga minyak turun, biaya impor komoditas ini akan ikut turun sehingga neraca perdagangan akan semakin terjaga dan ini akan berdampak positif buat mata uang rupiah," ujar Ibrahim.

    Sementara itu, pekan ini pasar juga menanti penandatanganan kesepakatan dagang fase satu antara AS-China. Perang dagang kedua negara yang sudah berlangsung sejak pertengahan 2018 itu diharapkan akan selesai atau setidaknya risiko tereskalasi kembali mengecil.

    Dalam kesepakatan dagang fase satu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa bea masuk sebesar 15 persen terhadap produk impor asal China senilai 120 miliar dolar AS nantinya akan dipangkas menjadi 7,5 persen saja. Sementara dari pihak China, Trump menyebut bahwa China akan segera memulai pembelian produk agrikultur asal AS yang jika ditotal akan mencapai 50 miliar dolar AS.

    HENDARTYO HANGGI | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.