Jejak Tony Blair, dari Invasi Irak ke Ibu Kota Baru Indonesia

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. TEMPO/Subekti

    Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. TEMPO/Subekti

    Kepada Zakaria, Blair mengaku bahwa kesalahan mereka dalam perang Irak telah membangkitkan kelompok teroris ISIS, yang kebanyakan petingginya adalah veteran perang Irak atau anggota milisi negara itu yang menentang invasi Amerika.

    Namun Tony Blair menyatakan tidak menyesal dan meminta maaf atas tergulingnya Saddam. "Saya tidak bisa meminta maaf atas lengsernya Saddam Hussein. Saya kira, bahkan hari ini lebih baik dia tidak ada di sana dibanding masih ada," ujarnya.

    Meski telah ada permintaan maaf, keluarga dari tentara Inggris yang meninggal dunia di Irak, menyerukan agar Blair diadili dengan tuduhan kejahatan perang. Seruan tersebut muncul menyusul publikasi Chilcot Report 6 Juli 2016 yang mengungkapkan fakta sebenarnya tentang keikutsertaan Inggris pada perang Irak.

    Puluhan anggota keluarga dari 179 tentara Inggris yang meninggal dunia di Irak begitu emosional ketika Sir John Chilcot mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan hasil investigasi di balik perang yang berlangsung pada 2003 tersebut. 

    "Ada satu teroris yang perlu diwaspadai dunia, namanya Tony Blair, teroris terburuk di dunia," kata Sarah, seperti yang dilansir Daily Mail pada 7 Juli 2016. Yang lain menambahkan bahwa Blair akan dikenang bukan sebagai PM Inggris melainkan sebagai orang yang mengirim pemuda Inggris ke sebuah perang ilegal.

    Namun demikian, rekam jejak Tony Blair di invasi Irak 2003 ini tidak menjadi soal bagi pemerintah Jokowi. “Ya itu bukan urusan kami,” kata Luhut. Menurut Luhut, pemerintah membutuhkan Blair agar ada figur internasional di tubuh dewan pengarah.

     FAJAR PEBRIANTO | KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.