Ada Nama Tony Blair di Ibu Kota Baru, Suharso: Internasionalisasi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair (kiri) dan Mantan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki (kanan) meletakkan karangan bunga di tugu peringatan upacara untuk peringatan 20 tahun genosida Rwanda, di Genocide Memorial Center, Kigali, Rwanda (7/4). (AP/Ben Curtis)

    Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair (kiri) dan Mantan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki (kanan) meletakkan karangan bunga di tugu peringatan upacara untuk peringatan 20 tahun genosida Rwanda, di Genocide Memorial Center, Kigali, Rwanda (7/4). (AP/Ben Curtis)

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia atau Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa menjelaskan alasan  keterlibatan tiga warga asing, termasuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, sebagai dewan pengarah Ibu Kota Baru. Menurut dia, pelibatan itu adalah bentuk internasionalisasi dari rencana pemerintah memindahkan ibu Kota.

    "Ada pertimbangan yang lain, yaitu proses internasionalisasi. Maksudnya adalah sosialisasi secara internasional sehingga bisa menundang para investor untuk ikut berperan dalam pembangunan ibu kota baru," ujar Suharso saat ditemui di Kantor Presiden, di Jakarta Pusat, Rabu, 15 Januari 2020.

    Ketiga orang asing yang dilibatkan dalam pembangunan ibu kota baru adalah Putra Mahkota Abu Dhabi Mohamed bin Zayed Al Nahyan sebagai Ketua Dewan Pengarah, CEO SoftBank Masayoshi Son, dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, yang berperan sebagai anggota. Suharso mengatakan mereka diminta untuk mengisi posisi ini dan telah menyatakan kesediaannya.

    "Tentu dewan pengarah ini tidak hanya mereka, tapi juga ada sebagian dari dalam negeri, termasuk menteri-menteri itu sendiri," kata Suharso.

    Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, juga mengatakan alasan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk memilih ketiga sosok ini, adalah karena figur secara internasional yang mereka punya. "Kami ingin ada internasional figur lah di situ," kata Luhut.

    Pemerintah juga tidak mempersoalkan rekam jejak Blair yang pernah membawa Inggris terlibat dalam invasi Irak pada 2003. "Ya itu bukan urusan kami," kata Luhut saat ditemui usai menghadiri diskusi di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020. Pemerintah hanya ingin memanfaatkan pengalaman Tony Blair untuk membangun ibu kota baru.

    EGI ADYATAMA | FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.