Setelah Turun Berhari-hari, Harga Minyak Naik ke USD 64,49

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pekerja terlihat di lokasi kilang minyak Saudi Aramco yang rusak akibat serangan sejumlah drone di Abqaiq, Arab Saudi, 20 September 2019. Arab Saudi menilai serangan di kilang minyak Kharais dan pabrik pengolahan minyak mentah Abqaiq menjadi serangan terburuk ke infrastruktur minyak di Timur Tengah sejak Saddam Hussien menyerang Kuwait pada 1990 sampai 1991. REUTERS/Stephen Kalin

    Para pekerja terlihat di lokasi kilang minyak Saudi Aramco yang rusak akibat serangan sejumlah drone di Abqaiq, Arab Saudi, 20 September 2019. Arab Saudi menilai serangan di kilang minyak Kharais dan pabrik pengolahan minyak mentah Abqaiq menjadi serangan terburuk ke infrastruktur minyak di Timur Tengah sejak Saddam Hussien menyerang Kuwait pada 1990 sampai 1991. REUTERS/Stephen Kalin

    TEMPO.CO, New York - Harga minyak dunia kembali naik setelah lima hari berturut-turut turun karena Amerika Serikat dan Cina bersiap meneken kesepakatan perdagangan dan mulai meredanya ketegangan Timur Tengah.

    Minyak mentah berjangka Brent naik 29 sen atau 0,5 persen menjadi US$ 64,49 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 15 sen atau 0,3 persen lebih tinggi menjadi US$ 58,23 per barel.

    Kedua acuan harga memangkas kenaikan dalam perdagangan pascapenyelesaian karena data dari American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri, menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS meningkat secara tak terduga minggu lalu. Data API menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik sekitar 1,1 juta barel dalam seminggu hingga 10 Januari 2020.

    Para analis telah memperkirakan bakal ada penarikan 474.000 barel minyak. Badan Informasi Energi AS (EIA) akan melaporkan data persediaan resmi pemerintah pada Rabu pagi waktu setempat. Para analis mengatakan minyak menemukan dukungan teknis setelah WTI turun ke level terendah lima minggu di US$ 57,72 sebelum memantul dari rata-rata pergerakan 200 hari.

    Penandatanganan yang diharapkan dari perjanjian perdagangan Fase 1 Amerika Serikat-Cina pada Rabu waktu setempat, menandai langkah besar dalam mengakhiri pertikaian yang telah memangkas pertumbuhan global dan mengurangi permintaan terhadap minyak.

    Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York menyebutkan harga minyak untuk sementara rebound setelah kelelahan penjual. "Sehingga para investor menunggu perkembangan selanjutnya di bidang perdagangan dan apakah kita melihat kenaikan yang kuat dengan permintaan global setelah kesepakatan perdagangan fase-satu," ujarnya seperti dikutip dari sebuah laporan.

    Cina telah berjanji untuk membeli lebih dari US$ 50 miliar pasokan energi dari Amerika Serikat selama dua tahun ke depan, menurut sebuah sumber yang menjelaskan tentang kesepakatan perdagangan.

    Meskipun terjadi perselisihan perdagangan, impor minyak mentah China melonjak 9,5 persen pada 2019, mencetak rekor untuk tahun ke-17 berturut-turut karena pertumbuhan permintaan dari kilang-kilang baru mendorong pembelian oleh importir utama dunia, data menunjukkan. Namun, kenaikan harga minyak mentah terbatas karena kekhawatiran tentang kemungkinan gangguan pasokan berkurang karena penurunan ketegangan di Timur Tengah.

    Penurunan baru-baru ini datang karena investor melepas posisi bullish yang dibangun setelah pembunuhan jenderal senior Iran dalam serangan udara AS baru-baru ini, yang mengirim harga minyak ke level tertinggi empat bulan awal bulan ini, kata Harry Tchilinguirian, ahli strategi minyak global di BNP Paribas di London.

    Sementara itu, Badan Informasi Energi AS (EIA) memproyeksikan laju pertumbuhan produksi minyak akan melambat menjadi tiga persen pada 2021, terendah sejak 2016 ketika produksi menurun.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.