Mayoritas Saham Asabri Terpuruk di Bawah Harga IPO

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Grup band Padi Reborn tampil dalam acara penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia tahun 2019 di Jakarta, Senin, 30 Desember 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Grup band Padi Reborn tampil dalam acara penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia tahun 2019 di Jakarta, Senin, 30 Desember 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekitar dua pertiga saham milik PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri) kini harganya di bawah harga saat penawaran umum perdana (IPO).

    Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 13 Januari 2020, dari saham yang dimiliki Asabri di atas lima persen, sebanyak 8 dari 13 saham tersebut lebih rendah dari harga saat IPO.

    Dari delapan saham tersebut, empat di antaranya termasuk dalam saham gocap alias saham yang mentok di harga terendah di bursa yaitu Rp 50 per saham.

    Empat saham gocap tersebut antara lain, Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) di mana harga IPO Rp 225 per saham, Inti Agri Resources Tbk (IIKP) harga IPO Rp 450 per saham, SMR Utama Tbk (SMRU) harga IPO Rp 600 per saham, dan Hanson Internasional Tbk (MYRX) harga IPO bahkan mencapai Rp 9.900 per saham.

    Empat saham di bawah harga IPO lainnya itu Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) dari harga IPO Rp 500 per saham menjadi Rp 326 per saham, PP Properti Tbk (PPRO) dari harga IPO Rp 185 per saham jadi Rp 66 per saham, Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dari harga IPO Rp300 per saham jadi Rp 204 per saham, dan Island Concept Indonesia Tbk (ICON) dari harga IPO Rp 118 per saham jadi Rp 71 per saham.

    Sementara itu, lima saham milik Asabri lainnya saat ini lebih tinggi dibandingkan harga saat IPO yaitu Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR) dari harga IPO Rp 150 per saham jadi Rp 338 per saham dan Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB) dari harga IPO Rp 115 jadi Rp 268 per saham.

    Selanjutnya ada Indofarma Tbk (INAF) dari harga IPO Rp 250 per saham jadi Rp 740 per saham, Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) dari harga IPO Rp 325 per saham jadi Rp 675 per saham, dan Pool Advista Finance Tbk (POOL) dari harga IPO Rp 135 per saham jadi Rp 197 per saham.

    Secara komposisi kepemilikan saham, berikut persentase saham yang dimiliki Asabri. Saham PCAR (25,14 persen), BBYB (20,13 persen), SDMU (18,06 persen), FIRE (15,57 persen), INAF (13,91 persen), NIKL (10,3 persen), POLA (7,65 persen), IIKP (5,44 persen), SMRU (6,61 persen), MYRX (5,4 persen), PPRO (5,33 persen), HRTA (5,26 persen), dan ICON (5,02 persen).

    Direktur Utama Asabri Sonny Widjaja dalam keterangan resminya, Senin, 14 Januari 2020 mengatakan, sehubungan dengan kondisi pasar modal di Indonesia, terdapat beberapa penurunan nilai investasi Asabri yang sifatnya sementara.

    Namun demikian, manajemen Asabri mengaku memiliki mitigasi untuk merecovery penurunan tersebut. Kementerian BUMN sendiri menyebutkan memang benar terdapat kerugian portofolio di sisi saham Asabri tersebut namun belum diketahui secara pasti terkait angka kerugiannya sebab masih dikaji lebih dalam.

    Kementerian BUMN sedang melakukan investigasi bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengetahui lebih lanjut terkait masalah Asabri tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.