Lanjutkan Proyek Jalan Tol, Pemerintah Butuh Modal Rp 400 Triliun

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gambar udara Proyek jalan tol Cimanggis-Cibitung yang membelah kawasan Cibubur, Jakarta, Minggu 24 November 2019. Pembangunan jalan tol ini membutuhkan 2.189 bidang tanah dengan luas total 1.522.722 meter persegi. Jalan Tol Cimanggis-Cibitung akan beroperasi pada Lebaran 2020. TEMPO/Subekti.

    Gambar udara Proyek jalan tol Cimanggis-Cibitung yang membelah kawasan Cibubur, Jakarta, Minggu 24 November 2019. Pembangunan jalan tol ini membutuhkan 2.189 bidang tanah dengan luas total 1.522.722 meter persegi. Jalan Tol Cimanggis-Cibitung akan beroperasi pada Lebaran 2020. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah masih mencari sokongan pembiayaan untuk melanjutkan proyek pembangunanan jalan tol baru sepanjang 2.500 kilometer hingga 2024 mendatang. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Danang Parikesit, mengatakan untuk proyek jalan tol tersebut, investasi yang dibutuhkan tak kurang dari Rp 400 triliun.

    “Ruangnya terbuka luas, makanya kami sangat welcome pada pemodal dan lembaga pembiayaan yang tertarik bermitra,” ucapnya kepada Tempo, Ahad 12 Januari 2020.

    Dari target tersebut, diasumsikan kebutuhan untuk konstruksi per kilometernya sebesar Rp 110-150 miliar. Menurut Danang, penawaran proyek pun cenderung disesuaikan dengan karakter investor. Sebagian besar pemodal hanya mengasup modal dan berfokus pada pengembalian investasi, namun ada pula yang bersikap aktif dalam proses konstruksi, bahkan bergabung sebagai operator. “Para financial investor pun tertarik pada akusisi tol yang beroperasi.”

    Peluang investasi jumbo untuk sektor jalan tol sebelumnya diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, usai bertemu United States International Development Finance Corporation (DFC), akhir pekan lalu. Meski masih dijajaki, lembaga pendanaan asal Amerika Serikat yang kerap bermitra dengan negara-negara berkembang itu berpotensi mengucurkan US$ 60 miliar atau berkisar Rp 820 triliun untuk proyek milik pemerintah Indonesia. Tak hanya tol, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara, Kartika Wijoatmodjo, mengatakan pembiayaan tersebut pun bakal mengalir ke sektor perhotelan, dan pengembangan energi terbarukan. “Masih dibicarakan,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.