Ogah Buka Nama Bos Garuda, Erick Thohir: Nanti Disangka Arogan

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Erick Thohir. TEMPO/Muhammad Taufan Rengganis

    Menteri BUMN Erick Thohir. TEMPO/Muhammad Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan usaha Milik Negara atau BUMN Erick Thohir tak mau membocorkan nakhoda PT Garuda Indonesia Tbk yang baru. Dia sudah mengantongi nama jajaran direksi dari perusahaan maskapai pelat merah tersebut.

    Ia mengingatkan bahwa Garuda Indonesia adalah perusahaan publik, sehingga harus mengikuti proses dan ketentuan yang berlaku. Kendati demikian, Erick berujar pemerintah sebagai pemegang saham terkadang ingin memastikan bahwa pemimpin anyar perusahaan pelat merah adalah figur yang tepat.

    "Kan, kita punya proses sendiri, tapi karena ini Tbk kan nanti salah lagi. Saya kan enggak mau cari problem dengan institusi-institusi yang ada, nanti disangka arogan. Padahal kita ingin profesional dan transparan," ujar Erick. Ia percaya bahwa penilaian publik terkadang lebih mantap dari birokrasi yang cenderung gemuk.

    Sebelumnya PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. disebut bakal menunjuk pengurus perseroan yang baru dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar pada awal 2020.

    Dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 17 Desember 2019, emiten berkode saham GIAA tersebut mengumumkan rencana rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 22 Januari 2020 di Tangerang.

    Rencana tersebut menyusul keputusan Erick Thohir yang mencopot lima direksi Garuda yakni Direktur Utama Ari Askhara, Direktur Teknik dan Layanan Iwan Joeniarto, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal, dan Direktur Human Capital Heri Akhyar, dan Direktur Operasi Bambang Adisurya Angkasa.

    Pencopotan itu terkait dengan skandal penyelundupan Harley dan Brompton dalam penerbangan seri flight GA 9721 tipe Airbus A330-900 Neo yang datang dari pabrik Airbus di Prancis pada 17 November 2019.

    Hingga RUPLSB diadakan, posisi direksi GIAA ditempati oleh kepengurusan sementara yang dipimpin oleh Fuad Rizal sebagai Plt Direktur Utama. Selain Fuad, kepengurusan sementara GIAA juga diisi oleh Pikri Ilham Kurniansyah sebagai Direktur Niaga, Tumpal Manumpak Hutapea sebagai Pejabat Direktur Operasi, Mukhtaris sebagai Direktur Teknik dan Layanan, Joseph Dajoe K. Tendean sebagai Pejabat Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha, dan Capt. Aryaperwira Adieksana sebagai Direktur Human Capital.

    Plt Direktur Utama yang merangkap Direktur Keuangan Garuda Indonesia Fuad Rizal mengatakan jajaran pelaksana tugas maupun pelaksana direktur diberikan tugas oleh Menteri BUMN Erick Thohir untuk menjaga operasional perseroan hingga RUPSLB pada 22 Januari 2020.

    CAESAR AKBAR | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.