Colliers: Harga Properti di Jakarta Terlalu Mahal, Sulit Terjual

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perumahan mewah The Villas di atas Mall of Indonesia (MOI), Kelapa Gading, Jakarta Utara, dari Pintu Lift Timur, pada Ahad, 30 Juni 2019. Tempo/MUH HALWI

    Perumahan mewah The Villas di atas Mall of Indonesia (MOI), Kelapa Gading, Jakarta Utara, dari Pintu Lift Timur, pada Ahad, 30 Juni 2019. Tempo/MUH HALWI

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga properti di Jakarta dinilai sudah terlalu tinggi. Hal ini membuat banyak properti di Jakarta sulit terjual, ditambah lagi dengan kondisi perekonomian setelah pemilihan umum yang belum membaik membuat banyak investor bertahan dan menunggu waktu yang tepat untuk membeli properti.

    Senior Associate Director Residential Tenant Representation Colliers International Indonesia Lenny Sinaga mengatakan bahwa memang ada beberapa lokasi di Jakarta yang harganya sudah terlalu tinggi dan tidak masuk akal.

    “Kebanyakan karena pemilik bersikeras bahwa rumahnya masih bisa naik harganya, padahal mau dinaikkan setinggi apa pun ujung-ujungnya malah jadi tidak terjual,” katanya Rabu, 8 Januari 2020.

    Lenny mencontohkan harga rumah mewah di Kemang sudah sama dengan di Kebayoran Baru, padahal dari segi lokasi tidak memungkinkan untuk terjual.

    “Jadi, kalau dibilang ketinggian ya, memang standar harganya udah segitu ya. Yang merusak (pasaran) adalah rumah yang harganya tinggi di lokasi yang tidak semestinya. Rata-rata harganya jadi berantakan,” sambungnya.

    Hal ini senada dengan yang disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda yang mengatakan bahwa dengan tingginya harga jual, investor justru jadi kesulitan untuk menjual propertinya.

    "Namun, ya, tetap saja masih banyak investor yang membeli harapan harganya akan terus naik. Padahal, pasar properti sama seperti ekonomi mempunyai siklus pasar, ini sering kali diabaikan oleh investor," katanya, beberapa waktu lalu.

    Ali juga mengatakan bahwa kondisi pasar harga properti yang sudah ketinggian malah bisa menekan likuiditas pasar properti sehingga harga properti mau tidak mau harus terkoreksi kalau ingin bisa terjual.

    Dengan kondisi seperti ini, untuk 2020, kata Lenny, pasar properti residensial yang masih akan bergerak tetap di segmen menengah ke bawah karena jika pengembang nekat untuk menjual yang kelas atas sulit terjual.

    “Saya lihat secara umum (pasarnya) masih lagi drop banget. Jadi, kalau mau yang mewah ya, jangan juga sekarang.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.