Iran - AS Tegang, Luhut: Jangan Terlalu Heboh

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan warga Iran berkumpul saat mengikuti upacara pemakaman Mayor Jenderal Qassem Soleimani yang tewas akibat serangan udara di Ahvaz, Iran, 5 Januari 2020. Hossein Mersadi/Fars news agency/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS

    Ribuan warga Iran berkumpul saat mengikuti upacara pemakaman Mayor Jenderal Qassem Soleimani yang tewas akibat serangan udara di Ahvaz, Iran, 5 Januari 2020. Hossein Mersadi/Fars news agency/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan merespons ihwal ketegangan yang terjadi Iran dengan Amerika Serikat.
    Dia mengatakan saat ini masih hanya melihat perkembangan kedua negara itu, tanpa kekhawatiran.

    "Kita lihat saja. Iya (harga minyak) pasti naik, gak apa-apa. Mereka itu hidup kan ada naik turun. Jangan terlalu heboh," kata Luhut di kantornya, Jakarta, Rabu, 8 Januari 2020.

    Sebelumnya terjadi serangan udara oleh AS di Irak yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani pada Jumat pekan lalu. Iran pun bersumpah akan membalas serangan tersebut. Di lain pihak, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan menyerang jika Teheran melakukan pembalasan.

    "Kemungkinannya ini tidak akan mengarah pada perang, dengan demikian ada kemungkinan bahwa pergerakan pasar saat ini akan bersifat jangka pendek,” ujar Joshua Mahony, analis pasar senior.

    Pada kesempatan yang berbeda kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan saat ini sedang melihat dampak dari ketegangan antara Iran dengan dengan Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Ketegangan dua negara itu diprediksi dapat mengganggu produksi energi di wilayah tersebut.

    "Jadi kita selalu menjaga APBN, ya kita lakukan saja kita akan membuat skenerio. Sama seperti waktu 2018 itu juga ada gejolak yang cukup tinggi, tahun 2019 juga gejolak tinggi. Kami akan jaga," kata Sri Mulyani di Gedung Djuanda Kemenkeu, Jakarta, Selasa, 7 Januari 2020.

    Dia mengatakan kondisi perekonomian dan geo politik selalu menjadi pertimbangan dalam menyusun dan mengelola APBN. Di lokasi yang sama, wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan ketegantan di Timur Tengah menyebabkan harga minyak meningkat.

    Namun pemerintah akan melihat pergerakan ke depan, karena di APBN 2020 harga minyak diperkirakan US$ 65 per barel. "Ini kan Januari baru tujuh hari, kita akan lihat bagaimana pergerakannya. Nanti dampaknya ke APBN kan tentu dipengaruhi variabel-variabel lain, seperti kurs kita bagaimana, kemudian lifting kita nanti seperti apa. Itu semuanya yang kita perhatikan terus," ujar Suahasil.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.