KKP Akan Bangun Sentra Perikanan Baru di Natuna Utara

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pergerakan Kapal Perang Republik (KRI) dengan kapal Coast Guard Cina di Laut Natuna, Sabtu, 4 Januari 2020. Aksi KRI menghadang kapal Cina  terlihat melalui layar yang tersambung kamera intai dari Pesawat Boeing 737 Intai Strategis AI-7301 Skadron Udara 5 Wing 5 TNI AU Lanud Sultan Hasanudin Makassar. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Pergerakan Kapal Perang Republik (KRI) dengan kapal Coast Guard Cina di Laut Natuna, Sabtu, 4 Januari 2020. Aksi KRI menghadang kapal Cina terlihat melalui layar yang tersambung kamera intai dari Pesawat Boeing 737 Intai Strategis AI-7301 Skadron Udara 5 Wing 5 TNI AU Lanud Sultan Hasanudin Makassar. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Agus Suherman mengatakan, pemerintah akan membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu atau SKPT di Kepulauan Natuna bagian utara.

    "Utara itu ada potensi pembangunan pelabuhan perikanan. Itu yang lagi kita coba segera untuk bahas dengan tim bersama sehingga Natuna Utara yang punya potensi ikan yang banyak bisa kita optimalkan sumber daya ikannya," kata Agus di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jakarta, Rabu, 8 Januari 2020.

    Di Natuna Utara, kata Agus, pemerintah akan membangun fasilitas untuk nelayan, seperti pelabuhan, perumahan, fasilitas industri dan cold storage di utara Natuna.

    Menurut dia, wacana pembangunan itu saat ini tengah dimatangkan. Pengerjaan pembangunan fasilitas itu sendiri akan dimulai pada 2021.

    "Sekarang perencanaannya paling selesai tiga sampai enam bulan selesai untuk di utara, pembangunan fasilitas pelabuhannya, habis itu mungkin 2021 baru mulai," ujar Agus.

    Agus memperkirakan pembangunan akan tuntas pada tahun 2023. Namun, kata dia, sekarang nelayan sudah bisa fasilitasi di selatan Natuna.

    Dia menuturkan, pembangunan fasilitas perumahan, pelabuhan, dan lemari pendingin (cold storage) di Natuna itu dimaksudkan agar dapat memenuhi kebutuhan nelayan. Selama ini, nelayan  masih mengandalkan SKPT Selat Lampa Natuna. "Nelayan kita butuh fasilitas. Fasilitas untuk pelabuhan untuk isi BBM pembekalan untuk mendaratkan ikan, industri itu pasti dibutuhkan," kata Agus.

    Dengan pusat perikanan itu, Agus mengatakan, Natuna bagian utara akan aman dan tidak akan ada pengusiran oleh coast guard Cina yang mengklaim wilayah perairan itu.

    Sebelumnya, Badan Keamanan Laut (Bakamla) melaporkan masih mendapati dua kapal penjaga laut atau coast guard milik Cina masih berada di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna Utara, Kepulauan Riau, pada Selasa petang, 7 Januari 2020. Kapal Cina itu mengawal kapal pencuri ikan yang beroperasi di perairan Natuna.

    Informasi terakhir tentang kondisi di perairan Natuna ini diterima Bakamla pada pukul 18.00 WIB, kemarin. "Di situ juga ada kapal ikan. Kalau ada kapal coast guard, biasanya juga ada kapal ikan. Faktanya, beberapa waktu lalu, melalui radar ditemukan 30 kapal ikan," ujar Direktur Operasi Laut Bakamla Nursyawal Embun saat dihubungi Tempo pada Rabu, 8 Januari 2020.

    HENDARTYO HANGGI | FRANSISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.