Sri Mulyani: Kinerja Ditjen Bea Cukai Lampaui Target 2019

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sosial Juliari Batubara dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberi penjelasan soal temuan maladministrasi Program Keluarga Harapan (PKH) oleh Ombudsman, Jakarta, Rabu, 11 Desember 2018. Foto: Istimewa

    Menteri Sosial Juliari Batubara dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberi penjelasan soal temuan maladministrasi Program Keluarga Harapan (PKH) oleh Ombudsman, Jakarta, Rabu, 11 Desember 2018. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019. Dia mengatakan kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melampaui target yang telah ditetapkan dalam APBN.

    "Untuk Bea Cukai di 2019 masih cukup baik kinerja dan itu terlihat dari penerimaan dari cukai hasil tembakau," kata Sri Mulyani di gedung Djuanda Kemenkeu, Jakarta, Selasa, 7 Januari 2020.

    Menurut dia, kinerja Ditjen Bea Cukai termasuk baik sepanjang 2019, meski penerimaan pajak keseluruhan tak mencapai target. Kinerja penerimaan sektor cukai menjadi motor utama setoran ke kas negara dari DJBC.

    Sri Mulyani menjabarkan penerimaan cukai hingga akhir Desember 2019 senilai Rp 172,3 triliun atau tumbuh 8 persen dari tahun sebelumnya. Capaian tersebut melebihi target yang ditetapkan dalam APBN senilai Rp 165,5 triliun.

    Kinerja setoran tersebut sebagian besar ditopang oleh penerimaan cukai hasil tembakau atau CHT. Setoran CHT hingga akhir Desember 2019 senilai Rp 164,8 triliun. "Realisasi penerimaan tersebut melebihi target yang ditetapkan dalam anggaran negara yang mencapai Rp 158,8 triliun," ujar Sri Mulyani.

    Kemudian, penerimaan cukai dari minuman mengandung etil alkohol atau MMEA hingga tutup tahun anggaran mencapai Rp 7,3 triliun. Jumlah tersebut melebihi target yang di patok dalam APBN 2019 senilai Rp 5,9 triliun.

    Adapun penerimaan cukai dari etil alkohol atau EA hingga akhir Desember 2019 mencapai angka Rp 120 miliar. Realisasi penerimaan tersebut masih di bawah target APBN 2019 yang sebesar Rp 160 miliar.

    Dia mengatakan kinerja baik di sektor cukai ini juga didukung oleh penindakan atas peredaran rokok ilegal yang berhasil ditekan dari yang di atas 7 persen.
    "Dan sekarang kita minta peredaran rokok ilegal di bawah 3 persen," kata Sri Mulyani.

    Dari sisi kepabeanan hingga akhir 2019 tertekan karena lesunya aktivitas perdagangan internasional terlebih negera mitra dagang Indonesia. Kelesuan itu berimbas ke penerimaan bea masuk dan bea keluar yang tidak mencapai target 2019.

    Akhir Desember 2019, kata dia, realisasi penerimaan dari bea masuk mencapai Rp 37,4 triliun. Jumlah tersebut masih di bawah target APBN 2019 yang mencapai Rp 38,9 triliun dan terkontraksi dengan pertumbuhan negatif sebesar 4,27 persen. Untuk realisasi penerimaan dari bea keluar hingga akhir Desember 2019 mencapai Rp 3,4 triliun.

    "Jumlah setoran bea keluar tersebut di bawah target APBN 2019 yang mencapai Rp 4,4 triliun dan terkontraksi 48,5 persen dari periode sama tahun lalu," ujar Sri Mulyani.

    Secara total kinerja DJBC hingga akhir Desember 2019 mencapai Rp 213,1 triliun. Realisasi penerimaan tersebut melampaui target yang ditetapkan senilai Rp 208,8 triliun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.