Polemik Cina di Laut Natuna, Edhy Prabowo: Kita Tetap Cool

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Video capture KRI Tjiptadi-381 yang beroperasi di bawah kendali Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada I  menghalau kapal Coast Guard China saat melakukan patroli di Laut Natuna Utara, Kepulauan Riau, Senin 30 Desember 2019. KRI Tjiptadi-381 menghalau kapal Coast Guard China untuk menjaga kedaulatan wilayah dan keamanan di kawasan sekaligus menjaga stabilitas di wilayah perbatasaan. ANTARA FOTO/HO/Dispen Koarmada I

    Video capture KRI Tjiptadi-381 yang beroperasi di bawah kendali Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada I menghalau kapal Coast Guard China saat melakukan patroli di Laut Natuna Utara, Kepulauan Riau, Senin 30 Desember 2019. KRI Tjiptadi-381 menghalau kapal Coast Guard China untuk menjaga kedaulatan wilayah dan keamanan di kawasan sekaligus menjaga stabilitas di wilayah perbatasaan. ANTARA FOTO/HO/Dispen Koarmada I

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo meminta semua pihak tidak terpancing terkait polemik kapal Cina yang menerobos masuk Perairan Natuna dan mengambil ikan di sana. Namun ia dapat memahami bahwa hal ini berkaitan dengan keamanan dan kedaulatan negara.

    "Yang penting tetap cool, tidak telalu terpancing, yang penting kita semua kompak di seluruh stakeholder, seluruh kementerian dan lembaga," ujar Edhy di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan, Senin, 6 Januari 2020.

    Menanggapi isu yang beredar bahwa ada seribuan kapal melintasi kawasan tersebut, Edhy menilai harus dilihat terperinci kapal apa yang dimaksud. Sebab, ia mengatakan ada banyak jenis kapal, mulai dari kapal perdagangan, kapal transportasi, hingga kapal nelayan. Untuk kapal nelayan asing, ia memastikan sudah ada penindakan.

    "Kalau ribuan kapal ya itu memang daerah terpadat, tempat lalu lalang, tapi masalahnya kapal itu jenis apa. Makanya kita jangan terpancing, terporovokasi, kita harus cool, kita sikapi ini, yang jelas kedaulatan di atas segala-galanya," tutur Edhy.

    Ia pun mengatakan, untuk mengawasi perairan Natuna tersebut KKP sudah terus mengirim tim dengan mekanisme dan aturan tertentu. Namun demikian, Edhy enggan menjelaskan secara rinci upaya-upaya yang telah dilakukan. "Enggak usah saya ceritakan di sini."

    Pernyataan Edhy itu mirip dengan sikap dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang menanggapi santai perkara tersebut. "Kita cool saja, kita santai kok ya," ujar Prabowo di Kantor Kementerian Maritim dan Investasi, Jakarta, Jumat, 3 Januari 2020.

    Menurut Prabowo, masing-masing negara punya sikap tersendiri mengenai perkara tersebut. Namun, dua negara perlu mencari satu solusi yang baik. "Kita selesaikan dengan baik ya, bagaimana pun Cina negara sahabat."

     Badan Keamanan Laut atau Bakamla sebelumnya menjelaskan adanya pelanggaran atas zona ekonomi eksklusif atau ZEE Indonesia, di perairan utara Natuna, pada Desember 2019. Bakamla menyebut kejadian ini bermula saat kapal penjaga pantai (coast guard) pemerintah Cina, muncul di perbatasan perairan.

    "Pada 10 Desember, kami menghadang dan mengusir kapal itu. Terus tanggal 23, kapal itu masuk Natuna kembali, kapal coast guard dan beberapa kapal ikan dari Cina waktu itu," kata Direktur Operasi Laut Bakamla Nursyawal Embun.

     CAESAR AKBAR | FRANCISCA CHRISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.