Bantu Patroli TNI, Nelayan Kerahkan 500 Kapal ke Perairan Natuna

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pergerakan KRI dengan kapal Coast Guard Cina terlihat melalui layar yang tersambung kamera intai di Laut Natuna, Sabtu, 4 Januari 2020. Pangkogabwilhan I TNI Laksamana Madya Yudo Margono mengatakan kapal-kapal asing tersebut bersikukuh melakukan penangkapan ikan yang berjarak sekitar 130 mil dari perairan Ranai, Natuna. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Pergerakan KRI dengan kapal Coast Guard Cina terlihat melalui layar yang tersambung kamera intai di Laut Natuna, Sabtu, 4 Januari 2020. Pangkogabwilhan I TNI Laksamana Madya Yudo Margono mengatakan kapal-kapal asing tersebut bersikukuh melakukan penangkapan ikan yang berjarak sekitar 130 mil dari perairan Ranai, Natuna. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - SEMARANG – Aliansi Nelayan Indonesia (Anni)  siap mengerahkan sekitar 500 kapal besar nelayan untuk mencari ikan sekaligus membantu TNI berpatroli mengamankan perairan Natuna. Dukungan nelayan itu diberikan menyusul meningkatnya ketegangan Cina-Indonesia di perairan tersebut.

    Seperti diketahui, perairan Natuna saat ini memanas menyusul pengawasan armada Cina (coast guard) yang mengawal kapal nelayan mereka untuk mencari ikan di perairan Natuna. Padahal, perairan ini diakui oleh PBB masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

    “Ada hampir 500 kapal nelayan berukuran besar, di atas 100 GT yang siap masuk ke Natuna melakukan penangkapan ikan sekaligus menjadi mata-mata negara dalam rangka mengamankan batas teritorial NKRI,” kata Ketua Umum Anni, Riyono, Senin 6 Januari 2020..

    Menurutnya, kedaulatan laut merupakan harga mati bagi bangsa Indonesia sehingga para aktivis kelautan dan nelayan Indonesia siap ke Natuna untuk membantu TNI menjaga kedaulatan NKRI. 

    Protes pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri kepada Beijing sampai saat ini belum mampu menghentikan aktivitas kapal Cina di Natuna. Pemerintah Cina masih membiarkan kapal-kapal pencari ikan beserta kapal pengawasnya berada di kawasan itu.

    Menurut Riyono, aktivitas kapal-kapal nelayan dan kapal pengawas Cina di perairan Natuna tersebut sama saja memprovokasi Indonesia. Selain provokasi yang bisa menyulut implikasi politik dan ekonomi, menurut informasi yang didapat Riyono, pelanggaran batas teritorial tersebut ternyata juga diikuti dengan ulah nelayan Tiongkok yang memakai pukat harimau, sesuatu yang sangat dilarang di Indonesia. “Ini menambah runyam masalah sengketa,” kata Riyono yang juga politikus PKS tersebut.

    Karena itu, Anni mendukung aksi TNI yang melakukan patroli sekaligus memberi ancaman terhadap nelayan dan kapal RRT yang memasuki wilayah Natuna. "Kami akan menggalang kekuatan nelayan Indonesia seperti HNSI, KTNA, dan organisasi nelayan lokal untuk bekerja sama dengan aparat keamanan dalam bentuk pengerahan kapal-kapal besar nelayan ke Natuna. Nelayan juga akan demo ke Kedubes RRT,” kata Riyono

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.