Konflik AS-Iran, Harga Minyak Bisa Melambung ke US$ 150 per Barel

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan warga Iran berkumpul saat mengikuti upacara pemakaman Mayor Jenderal Qassem Soleimani yang tewas akibat serangan udara di Ahvaz, Iran, 5 Januari 2020. Hossein Mersadi/Fars news agency/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS

    Ribuan warga Iran berkumpul saat mengikuti upacara pemakaman Mayor Jenderal Qassem Soleimani yang tewas akibat serangan udara di Ahvaz, Iran, 5 Januari 2020. Hossein Mersadi/Fars news agency/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran  terus memanas setelah Jenderal Qassem Soleimeni tewas akibat serangan udara AS. Kondisi tersebut diprediksi akan membuat harga minyak dunia melambung.

    Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan dalam keadaan perang, harga minyak bisa naik hingga ke US$ 150 per barel. Pasalnya, Timur Tengah adalah salah satu pemasok minyak dunia. Kendati, lonjakan itu sangat tergantung kepada respons Iran.

    "Ini tidak bagus untuk kita, pelaku pasar perlu hati-hati karena pasar saham bisa terkoreksi, balik lagi ini tergantung respon Iran bagaimana, kalau dilihat statementnya mereka kan bilang akan melakukan balasan. Kita khawatir bakal ada Perang Teluk lagi," ujar Hans melalui sambungan telepon, Ahad, 5 Januari 2020.

    Menurut Hans, kenaikan harga minyak menjadi US$ 80 hingga US$ 90 per barel saja sudah menjadi peringatan untuk Indonesia. Sebab, Indonesia hingga saat ini masih memenuhi kebutuhannya dari impor atau nett importer. Harga minyak mentah Brent pada hari ini, Senin 6 Januari 2020 terpantau di US$ 70,19 per barel.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Obat Sakit Perut Alami

    Berikut bahan alami yang kamu perlukan untuk membuat obat sakit perut alami di rumah.