AS - Iran Kian Memanas, Perekonomian Global Bakal Terganggu

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang demonstran Iran memegang foto almarhum Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani, selama protes menentang pembunuhan Soleimani, kepala Pasukan elit Quds, dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis, yang tewas dalam serangan udara di Bandara Baghdad, di depan kantor PBB di Teheran, Iran, 3 Januari 2020. [Nazanin Tabatabaee / WANA (Kantor Berita Asia Barat) via REUTERS]

    Seorang demonstran Iran memegang foto almarhum Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani, selama protes menentang pembunuhan Soleimani, kepala Pasukan elit Quds, dan komandan milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis, yang tewas dalam serangan udara di Bandara Baghdad, di depan kantor PBB di Teheran, Iran, 3 Januari 2020. [Nazanin Tabatabaee / WANA (Kantor Berita Asia Barat) via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Serangan udara Amerika Serikat di Irak yang menewaskan komandan pasukan elit Quds Iran Jenderal Qassem Soleimani diperkirakan bakal mengganggu perekonomian global yang belakangan mulai stabil. Padahal sebelumnya perjanjian perdagangan tentatif antara AS dan Cina telah mendukung ekspektasi bahwa pertumbuhan global akan mulai pulih tahun ini.

    "Situasi ini mengingatkan saya pada permainan Whack-A-Mole," kata Wellian Wiranto, seorang ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp di Singapura dikutip dari Bloomberg, Jumat, 3 Januari 2020.

    Pertikaian Amerika Serikat - Iran, menurut dia, dapat menghentikan sentimen positif apa pun. Harga minyak berjangka di London dan New York misalnya, telah melonjak lebih dari 4 persen karena berita itu. 

    Tepat ketika pasar mulai merasa lega bahwa risiko eskalasi perang dagang telah surut, Wellian menyatakan ketegangan di Timur Tengah malah menimbulkan kekhawatiran baru. Kenaikan tajam harga minyak ini disebut-sebut akan memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap ekonomi di luar Timur Tengah.

    Biaya energi yang lebih tinggi juga dinilai bakal berimbas ekonomi dengan berbagai cara. Negara-negara yang merupakan importir energi netto akan melihat pendapatan dan pengeluaran rumah tangga dirugikan, dan inflasi dapat meningkat. Sebagai importir minyak terbesar di dunia, Cina rentan, banyak negara Eropa juga mengandalkan impor energi. 

    Padahal sebelumnya kepercayaan bisnis perlahan-lahan membaik ketika alat-alat manufaktur utama menunjukkan pulih. Ekonomi dunia yang mulai stabil setelah kinerja terburuknya dalam satu dekade kembali diuji oleh serangan udara Amerika Serikat di Irak yang menewaskan salah satu jenderal paling kuat Iran tersebut.

    Berdasarkan data Bloomberg, harga emas Comex kontrak Februari 2020 naik tajam 1,20 persen atau 18,30 poin ke level US$ 1.546,40 per troy ounce pada pukul 15.24 WIB, menuju reli hari kedelapan beruntun sejak perdagangan 23 Desember 2019.

    Harga logam mulia lainnya seperti perak ikut menguat, bersama dengan platinum dan palladium. Selain emas, aset safe haven lain yakni yen Jepang, yang kerap diburu di tengah menjalarnya kekhawatiran geopolitik, terangkat.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.