Banjir Jakarta, Basuki: Saya Tidak Dididik untuk Berdebat, Tapi..

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjawab pertanyaan awak media setelah membuka PUPR 4.0 Expo di Kementerian PUPR, Jakarta, Senin, 11 Februari 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjawab pertanyaan awak media setelah membuka PUPR 4.0 Expo di Kementerian PUPR, Jakarta, Senin, 11 Februari 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono memastikan enggan berdebat dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan soal efektivitas normalisasi untuk menanggulangi banjir di ibu kota. "Saya tidak dididik untuk berdebat," ujar Basuki di Kantor Kementerian Maritim dan Investasi, Jumat, 3 Januari 2020.

    Namun, menurut Basuki, persoalan penyebab dan penanggulangan itu harus dilihat secara detail tidak bisa serampangan. "Lihat skemanya, saya enggak mau berdebat lah," katanya. 

    Basuki lantas menggambarkan situasi di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, yang normalisasi sungainya belum rampung sesuai rencana. Akibatnya, saat sungai meluap, air banjir mengalir melalui wilayah yang belum dinormalisasi ke dataran yang rendah. Akibatnya, air menggenang di kawasan tersebut. "Tapi tidak melimpas," ujar Basuki.

    Sebelumnya, Basuki mengatakan bahwa saat menyusuri Kali Ciliwung, ia mendapati bahwa normalisasi sungai baru berjalan 16 kilometer dari panjang total 33 kilometer. Sehingga, masih ada wilayah yang tergenang,

    Sementara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan malah menuding normalisasi sungai yang dilakukan pemerintah belum maksimal dalam meredam banjir di ibu kota. "Memang benar, di sini memang sudah dilakukan normalisasi tapi faktanya masih tetap terjadi banjir," kata Anies saat meninjau Kali Ciliwung di Kampung Pulo, Jakarta Timur, Kamis, 2 Januari 2020.

    Kali Ciliwung di kawasan Kampung Pulo, sempat meluap saat hujan di malam tahun baru, Selasa, 31 Desember lalu. Ribuan rumah di sekitar kali tersebut terendam banjir dengan ketinggian 0,5-2 meter.

    Menurut Anies, perlu ada kajian komprehensif dalam penanganan banjir jangka panjang di ibu kota. Terutama, kata dia, pengendalian air di kawasan hulu dengan membangun bendungan atau dam. Selain dam, menurut mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu, pemerintah membutuhkan pembangunan waduk dan embun untuk menampung air. "Sehingga ada kolam-kolam retensi untuk mengontrol atau mengendalikan volume air yg bergerak ke arah hilir," ujarnya.

    CAESAR AKBAR | IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.