Anies Singgung Bendungan Anti Banjir, Ridwan Kamil Ikut Bicara

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Barat  Ridwan Kamil menemui korban banjir di beberapa lokasi  di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor, Kamis, 2 Januari 2020.

    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menemui korban banjir di beberapa lokasi di Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor, Kamis, 2 Januari 2020.

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menanggapi pembangunan dua waduk Ciawai dan Sukamahi yang disebut sebagai penangkal banjir Jakarta. Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan penanganan banjir kuncinya pada pengendalian air sebelum masuk ke Ibu Kota.

    Ridwan Kamil menjelaskan melalui akun instagramnya. Ia mengatakan progres kedua bendungan sudah mencapai 45 persen. “Salah satu solusi engineering penanganan banjir Jabodebek yaitu dengan membangun 2 Bendungan dari dana APBN kerja sama Kementrian PUPR dan Pemprov Jawa Barat. Jika selesai fungsi 2 bendungan ini Insya Allah akan signifikan mengurangi potensi banjir di Jabodebek,” katanya, Jumat, 3 Januari 2020.

    Menurutnya, jika pembangunan bendungan Sukamahi selesai, maka akan bisa mengurangi potensi banjir hingga 29 meter kubik/detik. Pembangunan bendungan Sukamahi ini akan bermanfaat sebagai pengendalian banjir, yang terletak di Desa Sukamahi, Kab Bogor. Volume tampungan bendungan sebesar 1,68×10,6 meter kubik. Dengan luas genangan maksimum 10 hektar

    “Progres sudah 45 persen. Pembebasan lahan sudah 90 persenan. Doakan bisa selesai secepatnya dan kita semua bisa merasakan manfaatnya. Aamiin," ujar Ridwan Kamil.

    Ketika bertemu dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Anies Baswedan sempat menyebut bahwa penanganan banjir kuncinya pada pengendalian air sebelum masuk ke Ibu Kota. Anies berharap dua bendungan yang merupakan proyek strategis KemenPUPR, yakni Bendungan Ciawi dan Sukamahi bisa cepat rampung demi mengatasi banjir di Jakarta.

    “Kalau dua bendungan itu selesai, maka volume air yang masuk ke pesisir bisa dikendalikan. Kalau bisa dikendalikan, InsyaAllah bisa dikendalikan. Tapi selama kita membiarkan air mengalir begitu saja, selebar apa pun sungainya, maka volume air itu akan luar biasa. Karena makin banyak kawasan (di atasL) yang digunakan untuk perumahan. Sehingga air pun mengalir ke sungai,” kata Anies, Rabu, 1 Januari 2020.

    Hal itu disampaikan Anies untuk menyanggah pendapat Basuki bahwa salah satu faktor yang memperparah banjir Jakarta adalah terhentinya normalisasi Sungai Ciliwung. “Kali Ciliwung sepanjang 33 km yang sudah ditangani normalisasi 16 km. Di 16 km itu kalau kita lihat InsyaAllah aman dari luapan. Tapi yang belum dinormalisasi tergenang. Jadi nanti saya dan pak Gubernur akan diskusikan untuk membuat program itu,” ujar Basuki.

    Menurut Basuki, termasuk sodetan kali Ciliwung ke Banjir Kanal Timur, yang pembebasan lahannya baru 600 m dari 1,2 km. Basuki berharap Anies yang memiliki keahlian untuk persuasif kepada masyarakat mampu mempercepat progres tersebut.

    Bukannya menanggapi soal normalisasi, Anies justru mengarahkan pembicaraan pada pembangunan bendungan yang tidak dikerjakan oleh Pemprov DKI Jakarta. Pasalnya, menurut Anies Kampung Melayu yang sudah dilakukan normalisasi pun mengalami banjir ekstrem.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.