Inflasi 2019 Terendah Sedekade, CSIS: Faktor Harga BBM Ikut Andil

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat meresmikan program mandatori penggunaan B30 di SPBU Pertamina MT Haryono, Jakarta, Senin 23 Desember 2019. Penerapan mandatori B30 memang menjadi satu dari sekian program quick win untuk menghemat devisa. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat meresmikan program mandatori penggunaan B30 di SPBU Pertamina MT Haryono, Jakarta, Senin 23 Desember 2019. Penerapan mandatori B30 memang menjadi satu dari sekian program quick win untuk menghemat devisa. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Laju inflasi tahun 2019 tercatat yang terendah selama satu dekade terakhir. Kemampuan pemerintah dalam menekan inflasi administered price dan daya beli yang rendah dinilai menjadi faktor utama rendahnya inflasi tahun lalu. 

    Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Yose Rizal Damuri menilai, salah satu penyebab rendahnya inflasi pada 2019 adalah kemampuan pemerintah menekan inflasi harga barang dan jasa yang telah ditentukan (administered price), contohnya BBM. Hal ini dapat dilihat dari pergerakan inflasi administered price yang relatif stabil sepanjang tahun 2019.

    "Tidak terlalu besar, sekitar 0,12 persen saja, walaupun dalam hal BBM, pemerintah juga tertolong dengan turunnya harga minyak dunia," katanya saat dihubungi pada Kamis 2 Januari 2020.

    Selain itu,  kata Yose, barang-barang yang termasuk dalam kategori administered price adalah kebutuhan dasar yang digunakan untuk produksi lebih lanjut. Kombinasi kedua hal inilah yang membuat ongkos produksi dapat ditekan oleh produsen.

    Namun, di sisi lain, Yose mengatakan, rendahnya inflasi juga disebabkan daya beli masyarakat yang cenderung menurun. Hal ini merupakan imbas dari lemahnya pertumbuhan ekonomi global.

    "Ekspor komoditas Indonesia selama 2019 mengalami pelemahan. Sementara itu, produksi domestik tidak mengalami perubahan yang berarti, akibatnya sumber penghasilan yang dapat menggerakkan daya beli domestik juga ikut melemah," kata dia.

    Lebih lanjut, Yose menjelaskan, ke depannya pemerintah perlu menjaga faktor-faktor produksi yang saat ini masih cukup tinggi. Ia mencontohkan ongkos logistik yang masih cukup mahal akan menambah beban produsen.

    "Inflasi produk makanan juga perlu diperhatikan pemerintah. Walaupun tidak besar, tetapi (inflasi) Indonesia pada sektor ini masih terbilang tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia," Yose menggarisbawahi.

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.