Jokowi Larang Goreng Saham, Sri Mulyani Singgung Kelas Menengah

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara penutupan perdagangan saham 2019 di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin, 30 Desember 2019. TEMPO/Fajar Pebrianto

    Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara penutupan perdagangan saham 2019 di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Senin, 30 Desember 2019. TEMPO/Fajar Pebrianto

    Tempo.Co, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kesadaran masyarakat kelas menengah di Tanah Air untuk melakukan diversifikasi tabungan sangat penting. Nantinya, kebutuhan masyarakat akan investasi yang aman akan mulai timbul.

    Karena itu Sri Mulyani mengatakan regulator dan pembuat kebijakan mesti bekerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya berkaitan dengan permintaan Presiden Joko Widodo agar praktik manipulasi dan goreng saham di pasar modal dihentikan.

    "Saya dalam hal ini Kemenkeu bekerja sama dengan OJK, BI, dan LPS dalam KSSK terus membangun integritas dan stabilitas sistem keuangan bagi para investor dari dalam negeri," ujar Sri Mulyani di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 2 Januari 2019.

    Belum lagi, menurut Sri Mulyani, langkah itu juga sejalan dengan survei Bloomberg yang menyebut para investor menjadikan Indonesia sebagai negara emerging market utama untuk investasi saham dan surat utang. Sehingga, dari sisi kinerja dan integritasnya dianggap sebagai tempat yang paling menarik.

    "Ini tentu reputasi yang harus kita jaga dan pertahankan karena indonesia membangun ke depan psti membutuhkan capital inflow baik internasional maupun yang berasal dari masyarakat kita sendiri," ujar Sri Mulyani. Modal-modal itu lantas akan mau dan mampu untuk menggerakkan ekonomi sesuai dengan kebutuhan pembangunan apabila kita menjaga kepercayaan tersebut.

    Oleh sebab itu, Sri Mulyani mendukung pernyataan Presiden Joko Widodo yang menginginkan pasar modal dibersihkan dari manipulator dan aksi goreng saham yang merugikan. Sebab, langkah tersebut dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat kepada pasar modal.

    "Saya setuju dengan apa yang disampaikan Bapak Presiden bahwa pasar modal adalah suatu lembaga dan tempat di mana masyarakat investor bisa menaruh kepercayaan," ujar Sri Mulyani.

    Dia mengatakan instrumen investasi harus memiliki rekam jejak dan valuasi yang berintegritas. Sehingga, para pemodal bisa membuat keputusan yang sangat jelas mengenai risiko dan keuntungannya. Sri Mulyani mengatakan secara umum integritas pasar basisnya adalah good corporate governance dan good market conduct.

    "Itu menjadi sesuatu yang sangat penting bagi pondasi pasar modal kita, sehingga, waktu nanti pemerintah makin mendiversifikasikan instrumen investasi seperti DIRE untuk pembiayaan real estate dan infrastruktur, dia bisa menjadi instrumen pilihan masyarakat untuk berinvestasi," tutur Sri Mulyani.

    Sebelumnya, Presiden Jokowi berharap pada tahun ini semua pemangku kepentingan bisa membersihkan pasar modal dari praktik jual beli saham yang tidak benar. "Tahun 2020 saya harapkan dapat menjadi momentum bagi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan BEI (Bursa Efek Indonesia) untuk mencanangkan tahun pembersihan pasar modal dari para manipulator yang sering memanipulasi," ujar Jokowi.

    Ia mengatakan para manipulator kerap memoles harga saham tidak sesuai dengan sebenarnya. Misalnya saham berharga Rp 100 per saham dipoles menjadi Rp 1.000 per saham, hingga Rp 4.000 per saham. "Hati-hati, ini harus dibersihkan dan dihentikan," kata Jokowi.

    Jokowi mengatakan upaya pembersihan pasar modal ini berkaitan dengan kepercayaan yang hendak dibangun di mata para investor. Menurutnya, praktik saham gorengan banyak menimbulkan korban dan kerugian, sehingga tidak boleh ada lagi ke depannya.

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.