BEI: Bursa Saham Tak Terpengaruh Banjir Jakarta

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tamu undangan Penghargaan Galeri Investasi BEI 2019 menggunakan pakaian daerah saat melihat pergerakan saham melalui tablet di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat, 28 November 2019. Pertumbuhan jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan rekor baru di tahun ini sebesar 237.747 single investor identification (SID) per 28 November 2019. Tempo/Tony Hartawan

    Tamu undangan Penghargaan Galeri Investasi BEI 2019 menggunakan pakaian daerah saat melihat pergerakan saham melalui tablet di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat, 28 November 2019. Pertumbuhan jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan rekor baru di tahun ini sebesar 237.747 single investor identification (SID) per 28 November 2019. Tempo/Tony Hartawan

    Tempo.Co, Jakarta - Bursa Efek Indonesia mencermati dampak banjir yang melanda DKI Jakarta dan sekitarnya terhadap pergerakan saham di pasar modal pada hari perdana perdagangan tahun 2020, Kamis, 2 Januari 2020.

    "Kalau dari pengalaman sebelumnya, rasanya tidak banyak pengaruh langsung kepada kegiatan bursa," ujar Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 2 Januari 2019.

    Ia mengatakan, berdasarkan pantauannya saat pembukaan perdagangan, indeks harga saham gabungan alias IHSG bergerak relatif moderat. Tak terlihat respon atau reaksi berlebihan atas peristiwa banjir Ibu Kota tersebut.

    "Ini adalah musibah yang sama-sama memprihatinkan kita, tapi mudah-mudahan ini kejadian sesaat dan ini natural disaster, dari alam," tutur Hasan. Dengan adanya penanganan yang baik dari seluruh komponen, baik pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan masyarakat, ia berharap kondisi tersebut tidak bertahan lama, sehingga tak terlalu berdampak ke perdagangan saham.

    Berdasarkan data historis, Hasan berujar bencana alam memang tidak berkorelasi langsung dengan kegiatan di bursa. Sebab, pasar modal saat ini bisa diakses tanpa membutuhkan kehadiran fisik. Dengan transaksi yang bisa dilakukan di mana pun, kegiatan jual beli di pasar modal bisa dilakukan setiap saat.

    "Kecuali, kemarin terkendala misalnya listrik dan sebagainya, tapi kan tidak masif. Dengan kehadiran smartphone kan akses ke bursa kita sangat memungkinkan.," tutur Hasan.

    Dilansir dari Bisnis, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terpantau bergerak fluktuatif di zona hijau pada awal perdagangan pertama 2020. Data Bloomberg menunjukkan IHSG dibuka naik 0,22 persen atau 13,59 poin di level 6.313,13. Kemudian pada pukul 09.05 WIB, tenaga indeks tergerus ke level 6.305,60 dengan kenaikan hanya 0,1 persen atau 6,06 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

    Pada perdagangan Senin lalu, 30 Desember 2019, sesi perdagangan terakhir sebelum libur Tahun Baru, IHSG menutup pergerakannya di level 6.299,54 dengan pelemahan 0,47 persen atau 29,77 poin. Adapun tiga dari sembilan sektor terpantau bergerak positif pada pagi hari ini dipimpin barang konsumen yang naik 0,77 persen. Enam sektor lainnya bergerak di zona merah, dipimpin aneka industri yang turun 0,64 persen.

    Sebanyak 23 saham menguat, 2 saham melemah, dan 646 saham stagnan dari 671 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang masing-masing naik 1,54 persen dan 1,12 persen menjadi penopang utama atas pergerakan positif IHSG.

    Sementara itu, pelemahan saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) menjadi penekan utama sekaligus membatasi besarnya kenaikan IHSG pada pagi hari ini.

    CAESAR AKBAR | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.