Mendag Minta Emiten Utamakan Tata Kelola Perusahaan yang Baik

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Kiri- kanan) Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate sedang berbincang di kediamanan Menkominfo dalam perayaan Natal 2019 di Pondok Labu, Cilandak, Jakarta, Rabu, 25 Desember 2019.  Menkominfo mengadakan open house saat Natal. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    (Kiri- kanan) Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate sedang berbincang di kediamanan Menkominfo dalam perayaan Natal 2019 di Pondok Labu, Cilandak, Jakarta, Rabu, 25 Desember 2019. Menkominfo mengadakan open house saat Natal. TEMPO/Ahmad Tri Hawaari

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto meminta pelaku pasar modal kian mempriorotaskan kepentingan konsumen untuk meningkatkan kinerja perdagangan pada 2020. Permintaan itu ia ungkapkan kala menghadiri penutupan perdagangan pasar modal pada Senin, 30 Desember 2019.

    "Untuk mengutamakan perlindungan konsumen, pelaku pasar modal harus memperhatikan market conduct (perilaku pasar) dengan tata kelola yang baik. Jadi, kinerja investasi akan aman dan nyaman," ujar Agus di kantor Bursa Efek Indonesia, Senin, 30 Desember.

    Agus mengatakan upaya untuk memperbaiki kualitas pasar modal ini merupakan salah satu cara untuk memperkuat kepercayaan investor agar mau menanamkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Di sisi lain, kinerja pasar modal yang moncer juga dianggap penting sebagai penjaga stabilitas ekonomi.

    Adapun kinerja pasar modal harus dijaga karena selama ini keberadaannya telah menjadi salah satu kontributor terbesar bagi pendorong pertumbuhan ekonomi. Kinerja yang dihasilkan dari pasar modal, kata dia, telah mendukung pemerintah dalam menyelesaikan pembangunan infrastruktur.

    "Hal ini tercermin dari instrumen pasar modal yang secara khusus digelontorkan untuk pembangunan infrastruktur. Pembangunan melalui mekanisme IPO (pencatatan saham perdana) dan obligasi hasilnya untuk bangun infrastruktur bisa mencapai Rp 15,4 triliun pada 2016," tutur Agus.

    Untuk makin memperkuat perdagangan saham, Agus meminta pasar modal pada tahun mendatang tidak hanya memperluas sarana investasi bagi perusahaan lokal dan perusahaan asing. Tapi juga menyediakan sumber pendanaan jangka panjang yang terjangkau untuk pelaku ekonominya.

    "Upaya perluas akses pasar modal untuk UMKM, misalnya, bisa membawa manfaat bagi perkembangan perekonomian," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.