Penutupan Perdagangan, Dirut BEI: 2019 Bukan Tahun yang Mudah

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Inarno Djajadi saat diskusi bersama redaksi dan manajemen Tempo di gedung Tempo, Palmerah, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019. TEMPO/Nufus Nita Hidayati

    Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Inarno Djajadi saat diskusi bersama redaksi dan manajemen Tempo di gedung Tempo, Palmerah, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019. TEMPO/Nufus Nita Hidayati

    TEMPO.CO, Jakarta - Bursa Efek Indonesia atau BEI menutup perdagangan pasar modal 2019 pada hari ini, Senin, 30 Desember. Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan tahun ini bukan tahun yang mudah bagi kinerja perdagangan saham.

    "Tahun 2019 bukan merupakan tahun yang mudah. Itu berpengaruh terhadap indeks dan yang kita lihat IHSG mengalami pengaruh terhadap external factor," ujar Inarno di kantor BEI, Jakarta Pusat, Senin siang.

    Inarno menjelaskan, sepanjang tahun, perdagangan saham mengalami dinamika dan menghadapi sejumlah tantangan. Kendati begitu, secara keseluruhan, BEI mencatat masih terjadi pertumbuhan positif untuk kinerja supply dan demmand.

    Dari sisi investor, kata Inarno, jumlah investor saham terekam meningkat 30 persen menjadi 1,1 juta investor saham berdasarkan Single Investor Identification atau SID. Adapun total investor sepanjang 2019 mencapai 2,48 juta investor (SID) atau meningkat lebih dari 50 persen ketimbang tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1,62 juta investor. Penanam modal di pasar perdagangan saham ini meliputi investor saham, reksa dana, dan surat utang.

    Di sisi lain, BEI juga mencatat terdapat 55 perusahaan mencatatkan saham baru atau IPO. Angka ini tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Sedangkan secara global, Indonesia menduduki peringkat ke-71.

    "Selama 5 tahun terakhir, Indonesia menempati urutan pertama untuk company listing. Posisi ini stabil terjadi selama 5 tahun dengan pertumbuhan 24-25 persen," ucapnya.

    Inarno mengimbuhkan, aktivitas pencatatan efek di BEI hingga pengujung 2019 pun diikuti pencatatan Exchange Traded Fund atau ETF baru sebanyak 14 perusahaan dan efek beragun aset (EBA) sebanyak dua perusahaan. Kemudian, Obligasi Korporasi Baru sebanyak dua perusahaan, Dana Investasi Real Estate Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DIRE-KIK) sebanyak dua perusahaan, dan Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DINFRA) sebanyak satu perusahaan.

    "Dengan begitu, terdapat 76 pencatatan efek baru di BEI sepanjang 2019, atau melebihi dari target 75 pencatatan efek baru yang direncanakan," tutur Inarno.

    Atas pencapaian tersebut, total jumlah Perusahaan Tercatat saham di BEI di pengujung tahun 2019 mencapai 668 perusahaan.

    Di samping itu, Inarno mengatakan likuiditas perdagangan turut meningkat. Hal ini tercermin dari frekuensi perdagangan harian dengan rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) meningkat 7 persen menjadi Rp 9,1 triliun.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.