Akhir Tahun 2019, IHSG Diprediksi Ditutup di Kisaran 6.350

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis memproyeksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal ditutup kisaran 6.350 pada penutupan perdagangan akhir tahun 2019. 

    Hans Kwee, Direktur PT. Anugerah Mega Investama menuturkan bahwa IHSG bakal menghijau pada penutupan akhir tahun, seiring adanya window dressing yang dilakukan oleh emiten dan kalangan fund manager. Penaikan pun berpotensi masih akan terus terjadi hingga pembukaan perdagangan awal 2020.

    “Akhir tahun IHSG sangat mungkin di tutup di level 6.350. Diawal Januari IHSG pada tanggal 2 kami perkirakan masih akan mengalami kenaikan terbatas tetapi sesudah itu memang IHSG sangat rawan aksi ambil untung mengingat kenaikan yang cukup signifikan selama bulan Desember,” ungkapnya Sabtu 28 Desember 2019.

    Hans merekomedasikan kepada pelaku pasar untuk melakukan SOS ketika pasar mengalami kenaikan. Dia memprediksikan pada penutupan perdagangan akhir 2019, IHSG ada di level 6.300 sampai 6.270 dan resistance di level 6.348 sampai 6.370.

    Pada penutupan pekan silam, Jumat 27 Desember 2019, IHSG ditutup menguat 0,16 persen atau naik 9,87 poin menuju level 6.329,31. Sedangkan dalam selama sebulan terakhir, IHSG menguat 5,09 persen.

    Untuk memberikan laporan terbaik kepada investor, maka fund manager sering menganti portofolio pada akhir tahun. “Saham-saham berkinerja kurang baik dikeluarkan dari portofolio diganti dengan saham-saham berkinerja baik,” ungkapnya.

    Hans menilai bahwa aktivitas ini secara langsung membuat saham-saham tertentu yang berkinerja baik mengalami kenaikan. Dan beberapa saham lapis tiga yang dilepas mengalami tekanan harga. Hal ini yang membuat pelaku pasar melihat di ujung tahun sering ada kenaikan saham-saham tertentu terutama saham blue chip.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.