Mahal, Garuda Indonesia Mulai Berhemat Pakai Avtur

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur pada pesawat Garuda pengangkut jemaah haji di Bandara Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 25 Agustus 2015. Pertamina melayani suplay avtur kebutuhan pemberangkatan jemaah haji untuk maskapai Garuda Indonesia serta maskapai asing Saudi Arabia dengan kapasitas tangki sebesar 5.500 KL di Bandara Halim Perdanakusuma. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur pada pesawat Garuda pengangkut jemaah haji di Bandara Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 25 Agustus 2015. Pertamina melayani suplay avtur kebutuhan pemberangkatan jemaah haji untuk maskapai Garuda Indonesia serta maskapai asing Saudi Arabia dengan kapasitas tangki sebesar 5.500 KL di Bandara Halim Perdanakusuma. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Banten -PT Garuda Indonesia Tbk mulai berhemat menggunakan bahan bakar avtur di tengah harganya yang mahal. Sejumlah efisiensi dilakukan Garuda sepanjang tahun ini sehingga pengeluaran untuk avtur mereka bisa ditekan.

    Salah satunya dengan memangkas jumlah penerbangan pada rute-rute tertentu. “Jadi misal ada 10 penerbangan pada 1 rute, kami potong jadi 7, jadi kami padatkan penumpangnya di sana,” kata  Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Fuad Rizal dalam public ekspos di Garuda Management Building, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Jumat, 27 Desember 2019.

    Dengan cara tersebut, Garuda Indonesia akhirnya mengeluarkan US$ 908 juta saja untuk avtur sepanjang Januari-September 2019. Angka ini lebih rendah US$ 10,9 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang melebihi US$ 1 miliar.

    Persoalan harga avtur ini telah menjadi sorotan beberapa waktu terakhir. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun menyadari, 40 persen dari komponen harga tiket pesawat adalah avtur. Sehingga ketika harga avtur mahal, maka tiket pun akan ikut naik.

    Situasi ini pula yang menjadi usulan dari Indonesia National Air Carrier Association (INACA) saat bertemu dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, kemarin. INACA melihat disapritas harga avtur yang tinggi, terutama di Indonesia Timur, telah mendorong tiket menjadi mahal. Sehingga, mereka ingin pemerintah menyeragamkan harganya, baik di timur maupun barat.

    Selain avtur, sebenarnya ada satu lagi komponen yang menguras kocek Garuda Indonesia paling besar, yaitu rental pesawat. Sepanjang 2019, Garuda menguras kocek US$ 843 juta untuk pos ini, naik US$ 4 juta dari tahun lalu yang sebesar US$ 811 juta.

    Menghadapi kenaikan ini, kata Fuad, perusahaannya mencoba memperpanjang masa sewa dari pesawat tersebut. Dari semula 5-6 tahun, menjadi 12 tahun. Dengan begitu, Garuda bisa mendapatkan harga yang lebih murah. “Bisa dapat penurunan biaya 25-30 persen,” kata dia.

    Sementara sehari sebelumnya, Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan salah satu cara yang berhemat yaitu saat pengisian avtur. Ia mencontohkan penerbangan Jakarta-Medan, “Jika lebih murah avtur di Jakarta, maka kami isi lebih di Jakarta,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.