Akhir Tahun, Investor Asing Mulai Kembali ke Pasar Saham RI

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melintas di depan papan tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    Pengunjung melintas di depan papan tampilan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/10/2017).Foto Agung Rahmadiansyah/Tempo

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang penutupan tahun, investor asing tampak berangsur-angsur kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 23 Desember 2019 mencatat sejak awal bulan ini, investor asing melakukan aksi beli bersih (nett buy) senilai Rp 7,04 triliun.

    Adapun pada akhir perdagangan Senin lalu, investor asing mencatatkan nett buy senilai Rp 424,22 miliar. Secara keseluruhan, sejak awal 2019, nilai beli investor asing sudah mencapai Rp 48,25 triliun. 

    Jika mengecualikan nilai dari transaksi skema crossing saham dari MUFG Bank Ltd. dalam rangka meningkatkan kepemilikannya di PT Bank Danamon Indonesia Tbk. dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. senilai total Rp 49,6 triliun, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 1,35 triliun.

    Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau sejak dibuka setelah libur Natal. Pada hari ini, pukul 11.40 WIB, IHSG terpantau menguat 0,18 persen ke level 6.317. Posisi ini telah melampaui perkiraan sejumlah analis yang mengatakan bahwa IHSG bakal ditutup di kisaran 6.200 - 6.300 pada akhir 2019.

    Adapun saham yang paling banyak diakumulasi investor asing saat ini adalah saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS).

    Chief Asia Market Strategist Axitrader Stephen Innes menunjukkan saat ini, likuiditas investor institusi sangat tinggi karena pasokan modalnya melebihi tingkat ekspansi ekonomi. "Ketika kita mengkombinasikan cash bonanza ini dengan prospek pertumbuhan ekonomi pascapenurunan tarif (impor terkait hubungan dagang AS-Cina), hal ini akan menjadi dorongan untuk memiliki aset berisiko," katanya seperti dikutip dari Blooomberg, Kamis, 26 Desember 2019.

    Adapun fokus investor global sekarang mengarah ke Januari 2020, yang mana AS dan Cina diharapkan menyempurnakan kesepakatan dagang tahap pertama. Selain itu, investor juga mulai semangat melihat kembalinya tanda-tanda ekspansi manufaktur setelah indeks PMI melemah pada November 2019.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Obat Sakit Perut Alami

    Berikut bahan alami yang kamu perlukan untuk membuat obat sakit perut alami di rumah.