Pialang Perdagangan Berjangka Ilegal Masih Marak, Ini Akibatnya

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mencicipi cokelat dalam pameran Kakao dan Cokelat 2019 di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa, 17 September 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Pengunjung mencicipi cokelat dalam pameran Kakao dan Cokelat 2019 di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa, 17 September 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Stephanus Paulus Lumintang menyebutkan pialang perdagangan berjangka ilegal masih berkeliaran di Tanah Air. Mereka tidak saja beredar di kota besar tapi juga kota kecil, sehingga masih memerlukan penegakan hukum tegas dari pihak berwenang.

    "Keberadaan pialang perdagangan berjangka ilegal memang masih marak, sekalipun masyarakat yang menjadi korban cenderung berkurang," ujar Paulus di Jakarta, Senin, 23 Desember 2019.

    Paulus menyebutkan keberadaan pialang ilegal mengambil porsi sangat besar untuk pialang legal. "Sehingga transaksi perdagangan yang diperoleh tidak optimal," katanya kepada pers saat menyampaikan evaluasi perusahaan 2019 dan peluang 2020 di Jakarta, Senin.

    Tanpa menyebutkan berapa jumlah pialang ilegal, Paulus mengatakan, keberadaan mereka beberapa tahun terakhir memang sangat meresahkan karena banyak sekali masyarakat yang menjadi korban penipuan.

    Namun sejak gencarnya sosialisasi dan literasi dari pemerintah seperti Kementerian Perdagangan, JFX, dan media massa, masyarakat sudah makin paham dan berhati-hati saat memilih pialang berjangka saat hendak melakukan investasi. "Sampai sekarang bukannya tidak ada korban, masih ada yang jadi korban. Tapi memang jumlahnya sudah berkurang," kata Paulus.

    Untuk itu, katanya, pihaknya minta kepada aparat kepolisian dan Kementerian Perdagangan untuk bersama-sama terus melakukan penegakan hukum secara tegas kepada para pialang ilegal.

    Paulus mengatakan, khusus untuk kinerja 2019, perusahaan menutup tahun 2019 dengan pencapaian total transaksi kontrak melebihi target sebesar 17 persen dari target 6,42 juta lot mencapai 7,51 juta lot per 18 Desember 2019.

    "Di sisa beberapa hari ke depan ini hingga akhir 2019 kami optimistis total transaksi kontrak bisa mencapai 8 juta lot," katanya pada acara yang juga dihadiri Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) Fajar Wibhiyadi.

    Kontrak multilateral yang banyak diperdagangkan sepanjang 2019 (per 18 Desember) adalah kontrak emas yang tercatat 622.412 lot atau 45,6 persen dari keseluruhan kontrak multilateral. Disusl kontrak kopi sebesar 380.825 lot atau 27,9 persen dari voilume multilateral, selanjutnya kontrak olein 323.538 lot atau 23,7 persen, dan kontrak kakao 37.797 lot atau 2,8 persen dari keseluruhan multilateral.

    Sedangkan kontrak bilateral yang banyak diperdagangkan sepanjang 2019 (per 18 Desember) adalah Loco London 4,72 juta lot (76,78 persen), forex tercatat 747.459 lot (12,15), disusul index sebesar 605.098 lot (9,84 persen), dan energi 74.488 lot (1,21 persen).

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.