Targetkan Ekspor 1 Juta Mobil pada 2024, RI Andalkan Mobil Pikap

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) didampingi Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (kanan) mengikuti ASEAN Economic Community (AEC) Council Meeting ke-18 di Impact Arena, Bangkok, Thailand, Kamis, 31 Oktober 2019. ANTARA

    Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) didampingi Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (kanan) mengikuti ASEAN Economic Community (AEC) Council Meeting ke-18 di Impact Arena, Bangkok, Thailand, Kamis, 31 Oktober 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah bertekad memacu ekspor produk mobil dari saat ini 300 ribu unit dengan nilai US$ 8 miliar menjadi 1 juta unit atau setara US$ 24 miliar pada 2024. Upaya itu dilakukan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang saat ini masih stagnan di angka 5 persen.

    Untuk mencapai target itu, pemerintah mengandalkan ekspor mobil dengan harga menengah, US$ 10 sampai US$ 20 ribu, atau setara Rp 140 juta sampai Rp 280 juta. “Yang diekspor itu mobil yang harganya affordable,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat, 20 Desember 2019.

    Salah satu produk yang diandalkan yaitu mobil pikap. Airlangga mengatakan, permintaan terhadap mobil jenis ini masih sangat besar di Filipina, Arab Saudi, dan negara-negara Amerika Latin. “Ini bukan otomotif yang mewah, dan daya beli masyarakat global juga masih kuat, terutama ASEAN dan Timur Tengah,” kata dia.

    Selain itu, Indonesia berupaya menyasar pasar mobil Australia. Sebab, kata Airlangga, saat ini seluruh industri otomotif di Australia sudah tutup. Sehingga, momen ini dinilai menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menyerbu pasar Australia dengan pikap Indonesia.

    Di tengah upaya menggenjot ekspor mobil ini, Airlangga menyebut hambatan dari Vietnam masih terjadi. Saat ini, Vietnam mempersulit ekspor mobil Indonesia dalam bentuk utuh alias Completely Built Unit (CBU). Pelan-pelan, Vietnam ingin produsen mobil di Indonesia membuka pabrik perakitan di sana.

    Walau demikian, Airlangga menyebut daya saing industri otomotif Indonesia masih cukup baik. Lantaran, sejumlah komponen seperti baja, kerangka mobil, plastik, ban, dan kaca sudah diproduksi di dalam negeri.

    Terlebih, raksasa otomotif asal Korea Selatan Hyundai juga akan merealisasikan investasi US$ 750 juta pada tahap pertama. Hyundai akan memproduksi 250 ribu mobil. 40 persen dari angka tersebut akan diekspor. “Ini akan mendorong pabrikan lain untuk mengekspor juga,” kata Airlangga.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.