Mandiri Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi RI 5,14 Persen Tahun Depan

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 mencapai 5,3 persen. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 mencapai 5,3 persen. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (Persero) Andry Asmoro mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 bakal di atas 5 persen. Hasil analisis dan riset tim ekonomi Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berkisar 5,14 persen.

    "Kami optimistis pertumbuhan ekonomi masih bisa diatas 5 persen pada 2020, perkiraan kami ada di 5,14 persen," ujar Andry saat mengelar konferensi pers bertajuk "Economic and Market Outlook 2020" di Plaza Mandiri, Jakarta Selatan, Kamis 19 Desember 2019.

    Adapun pertumbuhan ekonomi tersebut masih akan ditopang oleh pertumbuhan di sektor konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga. Pertumbuhan juga akan ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang membaik seiring dengan berakhirnya tahun politik dan munculnya kebijakan untuk mendorong daya saing ekonomi dan investasi lewat Omnibus Law.

    Selain itu, faktor lain yang juga bakal ikut mendorong pertumbuhan ekonomi adalah transmisi penurunan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang mulai terjadi. Selain itu, kebijakan pelonggaran loan to value (LTV) untuk kredit baik kendaraan bermotor dan juga sektor properti.

    Kemudian, faktor positif lain juga datang dari kebijakan fiskal yang makin efektif pada 2020. Khususnya, lewat peningkatan belanja negara di sektor yang bisa memberikan dampak multiplier effect yang tinggi untuk pertumbuhan ekonomi.

    Adapun, dari sisi eksternal, pertumbuhan ekonomi masih akan menghadapi tantangan dari sisi pelambatan ekonomi global dan juga ketidakpastian perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina. Hal ini, lebih lanjut bakal berdampak pada harga komoditas yang diperkirakan akan mengalami fluktuasi.

    Meskipun demikian, dari semua faktor negatif tersebut, potensi adanya resesi bagi AS yang disebut-sebut masih membayangi, diperkirakan tak akan terjadi. Menurut hasil analisis dan studi Bank Mandiri, sejumlah faktor mengindikasikan terjadinya pelambatan bukan resesi ekonomi di AS.

    "AS ini sampai detik ini, belum ada yang mengkonfirmasi bakal resesi. Artinya, resesi ekonomi AS masih jauh, hanya perlambatan ekonomi," kata Andry.

    Hal ini dibuktikan dengan sejumlah data ekonomi dalam negeri AS yang menunjukkan belum adanya pertumbuhan negatif. Selain itu, Dana Moneter Internasional (IMF) pun telah beberapa kali merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS, meski di sejumlah negara dunia justru direvisi turun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.