Internet dan Mobile Banking Dominasi Pembayaran Belanja Online

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ngobrol @Tempo bertajuk

    Ngobrol @Tempo bertajuk "Juara E-commerce 2019" di Beka Resto, Balai Kartini, Jakarta pada Rabu, 18 Desember 2019.

    INFO BISNIS — Tren menggunakan pembayaran digital dalam transaksi belanja online kian meningkat. Sebanyak 37 persen pembeli melakukan pembayaran dengan internet banking atau mobile banking, sedangkan 20 persen melakukan transfer via ATM.

    Dilihat dari jenis kelamin, 73 persen pria dan perempuan (67 persen) menggunakan pembayaran elektronik ini. Namun, kaum perempuan lebih banyak melakukan transaksi via internet banking dibanding pembeli laki-laki yakni 41 persen berbanding 27 persen.

    Bagaimana dengan penggunaan uang elektronik? Berdasarkan survei Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT), mayoritas responden menggunakan Gopay sebagai alat pembayaran di berbagai e-commerce, yakni 74 persen di Shopee, 79 persen di Tokopedia, dan 67 persen di Bukalapak. Posisi kedua ditempati OVO dengan selisih tak terlalu besar.

    Kuatnya Shopee di kalangan perempuan karena dunia belanja sangat dekat dengan kaum Hawa. "Tahun ini cukup menarik apa yang Shopee rasakan dari sisi banyaknya pembeli perempuan, banyak sekali terjadi transaksi luar biasa misalnya saat Ramadan, akhir tahun atau Hari Belanja Online Nasional 1212 . Ini menandakan gairah belanja online terus ada," ujar Country Brand Manager Shopee, Rezki Yanuar.

    Survei PDAT menyebutkan posisi situs belanja online yang paling banyak diakses pengguna, terpercaya dan terjadi transaksi jual beli, hingga akhir 2019 tak banyak berubah. Tokopedia, dan Shopee menempati urutan teratas, dibuntuti Bukalapak dan Lazada, Blibli, JD.ID, dan OLX.

    Pemeringkatan ini berdasarkan hasil survei PDAT selama tiga bulan terakhir. Survei rutin ini bertujuan mengukur perubahan belanja online yang menjadi tren seiring perkembangan e-commerce.

    "Ada tujuh besar yakni Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan Lazada, Blibli, JD.ID, lalu OLX. Fokus penelitian berbasis opini responden yang mengakses e-commerce via website atau mobile apps," ujar Head of Research and Data Analysis PDAT, Ai Mulyani pada acara @Ngobrol Tempo, 18 Desember 2019.

    Survei yang dilakukan PDAT melibatkan 1.027 responden, dengan sejumlah kategori. Untuk responden usia terbanyak di rentang 25-30 tahun (34 persen) dan usia 31-35 tahun (24 persen). Sedangkan untuk jenis kelamin 54 persen perempuan dan 46 persen lelaki.

    Berdasarkan wilayah 76 persen di Pulau Jawa dan sisanya 24 persen dari pulau-pulau lain. Tingkat pendidikan yang terbiasa berbelanja di situs e-commerce, yakni 65 persen sarjana, 20 persen pascasarjana, 7 persen setara diploma, dan 8 persen SMA. Tokopedia cukup melekat di ingatan banyak orang karena 91 persen responden mengetahuinya.  Shopee diingat 82 persen, Bukalapak mencapai 71 persen, dan Lazada 65 persen.

    Survei PDAT juga menemukan, 84 persen perempuan mengaku pernah membeli di Shopee. Sedangkan brand Tokopedia cukup kuat di kalangan pria (80 persen). Untuk e-commerce yang paling sering dikunjungi dan melakukan pembelian, 46 persen kaum pria memilih Tokopedia. Adapun Shopee menjadi acuan bagi 52 persen kaum perempuan.

    Di kesempatan yang sama, Blibli merasa bahagia berkat lonjakan yang terjadi selama Hari Belanja Online Nasional (harbolnas). "Ada kenaikan 8,5 kali lipat dibanding hari biasa. Kami nggak bisa sebutkan jumlah rata-rata per hari, tapi bisa dibayangkan blibli punya logistik sendiri, jadi cukup besar, kan?" ujar VP Business Development Blibli,  William Hadibowo

    Terkait jenis gender yang mengakses Blibli, kata William, lelaki dan perempuan cukup seimbang. "Kita lihat selama ini yang belanja di Blibli adalah orang dengan daya beli tinggi middle up, bukan sekadar item tapi groceries dan bahkan belanja bulanan," katanya. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.