Harbolnas, Transaksi Shopee Tembus Rp 1,3 T dalam 24 Jam

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Didi Kempot menjadi duta Shopee. Dok. Shopee

    Didi Kempot menjadi duta Shopee. Dok. Shopee

    TEMPO.CO, Jakarta - Platform layanan perdagangan daring (e-commerce) Shopee mengklaim bahwa jumlah transaksi di platformnya meraih hingga Rp 1,3 triliun pada saat puncak Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12.12 lalu.

    "Kami mencapai Rp 1,3 triliun transaksi dalam waktu 24 jam ketika Harbolnas 12.12 kemarin," kata Country Brand Manager Shopee Indonesia Rezki Yanuar di Jakarta, Rabu, 18 Desember 2019.

    Menurut dia, jumlah ini cukup mengejutkan dan mengalami peningkatan signifikan. Selama kuarter ketiga mulai dari Juli, Agustus, dan September, jumlah transaksi yang terjadi adalah sekira 1,5 juta transaksi per hari.

    Pada saat Harbolnas, beberapa sektor barang yang paling banyak menjadi sasaran pengguna Shopee adalah di sektor fesyen, kecantikan, dan produk digital termasuk elektronik.

    "Sebenarnya cukup beragam (sektor barang yang berkontribusi). Cukup banyak. Apalagi di (Harbolnas) 12.12, customer sudah menunggu dan sudah menyiapkan produk mana saja yang mau dibeli nanti," ujar Rezki.

    Lebih lanjut, pria berkacamata itu tidak menampik bahwa pengguna wanita sangat dominan di platform e-commerce dengan warna jingga itu. Walaupun menurutnya, Shopee tidak memberikan segmentasi khusus bagi penggunanya.

    "Ketika kita ngomongin dominasi, pasti perkembangannya akan meningkat terus. Dan secara generik, 50-60 persen wanita memang suka berbelanja," kata Rezki.

    "Kami tidak bikin sentris ke gender. Tapi memang karena secara generik, wanita itu paling suka belanja. Tapi pada dasarnya, kita ingin semua orang nyaman berbelanja di Shopee," ujarnya melanjutkan.

    Untuk tahun mendatang, pihaknya optimistis bahwa ekosistem digital Indonesia akan terus bertumbuh sejalan dengan peran masyarakat, pelaku bisnis, dan pemerintah.

    "E-commerce pasti tumbuh. Perlahan tapi pasti, seperti kehadiran e-commerce hingga dompet dan pembayaran digital, ekosistem digital kita tumbuh secara sehat," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.