Wamenkeu Dorong Sektor Properti untuk Topang Pertumbuhan Ekonomi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat brosur properti dalam acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2019 di JCC, Senayan, Jakarta, 16 November 2019. Acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2019 digelar untuk menggairahkan pasar properti. TEMPO/Fajar Januarta

    Pengunjung melihat brosur properti dalam acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2019 di JCC, Senayan, Jakarta, 16 November 2019. Acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2019 digelar untuk menggairahkan pasar properti. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan terus mendorong sektor properti untuk bisa tumbuh lebih tinggi. Sebab, jika industri properti tumbuh, diharapkan bisa ikut menopang perekonomian nasional, bahkan mendorong pertumbuhan ekonomi.

    "Sektor properti ini biasanya memegang peranan penting untuk menahan atau mengangkat kembali pertumbuhan ekonomi, karena sektor properti multiplier efeknya ke banyak sektor," ujar Suahasil di Gedung Dhanapala, Jakarta Pusat, Rabu 18 Desember 2019.

    Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal ini menjelaskan, jika bisnis properti tumbuh, maka bisa memberikan dorongan pada sektor lain. Misalnya, mulai dari, tenaga kerja konstruksi, kebutuhan tanaman, tumbuhan, besi baja, hingga batu bata.

    Artinya, sektor properti ini ikut memberikan input mulai dari sektor manufaktur hingga sektor jasa. Selain itu, bisnis properti juga memiliki rentang yang luas. Sebab, mulai dari kalangan kelas atas hingga bawah, semuanyay membutuhkan produk properti dalam hal ini perumahan.

    Karena itu, lanjut Suahasil, pemerintah telah mulai memikirkan strategi dari sisi fiskal untuk mendorong sektor properti sejak tahun lalu. Di sektor ini, pemerintah telah memberikan sejumlah insentif fiskal mulai dari pemotongan PPh hingga peniadaan PPh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.