Tiket di Pulo Gebang Belum Online, Menhub Ancam Ganti Pejabat

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Budi Karya Sumadi tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    Budi Karya Sumadi tiba di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 22 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, JakartaMenteri Perhubungan atau Menhub Budi Karya Sumadi mengancam akan mengganti pejabatnya apabila masih belum juga membenahi sistem pertiketan di Terminal Pulo Gebang, Jakarta. Ia mengatakan sudah tiga tahun instruksinya untuk menyediakan sistem pembelian tiket bus online belum direalisasikan.

    Ia pun meminta para pejabat terkait untuk menyelesaikan penugasan tersebut. "Jadi kalau saat lebaran nanti, menjelang lebaran, tidak ada atau tidak terjadi, maka pejabatnya akan saya ganti," tutur Budi di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa, 17 Desember 2019.

    Sebelumnya, Budi tampak geram saat berbicara soal Terminal Pulo Gebang. Ia mengatakan penugasan darinya kepada pejabat terkait ihwal terminal tersebut tak kunjung dikerjakan, yaitu untuk menyediakan layanan pembelian online.

    "Waktu ke Pulo Gebang kalo bisa marah, ya marah sekali. Saya sudah minta ke Ditjen Darat (Direktorat Jenderal Perhubungan Darat), BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, dan Dinas Perhubungan, minta pembelian online yang dikasih cuma ke Majalengka," ujar Budi.

    Ia mengatakan penugasan itu sudah disampaikan hampir selama tiga tahun, namun hingga kini belum juga terjadi. Kegeraman Budi bertambah kala ia mencoba membeli tiket untuk salah satu jadwal. Namun, ketika datang busnya masih kotor dan tampak tidak ada penumpangnya.

    "Saat saya tunggu (untuk jadwal) jam 11.30 WIB bus ini enggak keluar-keluar karena bis ini punya terminal gelap sendiri. Saat datang datang masih kotor dan enggak ada penumpang. Artinya, 3 tahun omongan saya hanya dianggap angin," tutur Budi. Dengan kejadian itu, ia merasa arahan yang disampaikan itu belum direalisasikan, seperti yang diminta oleh Presiden Joko Widodo.

    Kegeraman Budi beralasan, karena ia merasa kasihan kepada masyarakat karena masih belum bisa mendapat pelayanan baik. Padahal, pemerintah telah menyediakan fasilitas terminal yang bagus. "Ini mesti dikelola dengan baik."

    Menurut Budi, ada tiga syarat angkutan bus bisa menjadi bagus. Pertama adalah soal ticketing yang mesti diperbaiki. Berikutnya soal antar moda atau kualitas bus yang baik, dnan terakhir adalah soal terminal. Saat ini, terminal dan busnya sudah bagus, tinggal perkara ticketing yang perlu segera benahi. "Jadi saya berharap stakeholder melakukannya dengan baik," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.