Edhy Prabowo Usul Lobster Dewasa Sebagian Dilepas ke Alam

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menunjukkan lobster yang sedang bertelur hasil penggagalan ekspor ke luar negeri di konservasi pantai Karanantu, Serang, Banten, 12 Februari 2015. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    Petugas menunjukkan lobster yang sedang bertelur hasil penggagalan ekspor ke luar negeri di konservasi pantai Karanantu, Serang, Banten, 12 Februari 2015. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan kementeriannya tengah mengkaji agar di masa depan lobster tidak habis karena kerap ditangkapi masyarakat. Caranya adalah dengan membesarkannya di dalam negeri dan memberikan persyaratan agar lobster itu sebagian dikembalikan lagi ke alam.

    "Kenapa tidak ada upaya agar pembesar lobster ini mengembalikan kembali lobster yang dia besarkan, enggak usah yang besar banget, yang dewasa untuk dilepas di alam. Misalnya 2,5 atau dua persen," ujar Edhy di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin, 16 Desember 2019.

    Dengan dua persen saja lobster itu dikembalikan ke alam, Edhy meyakini populasi lobster besar di alam akan meningkat dari kebiasaan umumnya di alam. Berdasarkan penelitian, ia mengatakan kalau benih lobster dibiarkan secara natural di alam, hanya 1 persen yang bisa tumbuh menjadi lobster dewasa. "Dengan cara restocking anda kembalikan 2,5 bahkan 5 persen ke alam. Ini dikaji."

    Edhy memang berharap Indonesia nantinya bisa membesarkan lobster sendiri di Tanah Air. Pasalnya, Indonesia adalah penghasil benih lobster terbanyak di dunia. Benih itu pun tersebar di banyak wilayah di dalam negeri.

    "Kenapa kita tidak berpikir untuk melakukan pembesaran sendiri saja?" Ujar Edhy. Ia mengatakan pembesaran lobster ini adalah peluang besar untuk perekonomian Indonesia, apabila dilakukan.

    Belum lagi, Indonesia, tuturnya, memiliki banyak tempat dari Sabang sampai Merauke untuk membesarkan lobster. Indonesia juga memiliki teluk panjang layaknya Vietnam yang telah terlebih dahulu melakukan pembesaran lobster. "Kenapa kita tidak mau mulai?"

    Untuk merealisasikan cita-cita itu, Edhy berjanji pemerintah akan mencari jalan keluar atas segara permasalahan yang dihadapi para pembesar lobster. Ia siap berkomunikasi dengan kementerian lain terkait untuk memfasilitasi pembesaran lobster tersebut.

    "Itu tugas kami untuk berkomunikasi, jangan pernah ragu. Kami yakin berkomunikasi dengan kementerian terkait, tidak ada ada masalah," kata Edhy. Meski demikian, selagi infrastruktur tersebut belum siap, ia mengkaji pembukaan keran ekspor benih lobster sebagai solusi sementara. "Harus ada jalan keluar karena ini (ekspor benih lobster) sudah terhenti cukup lama. Tapi, harus ada cara jangan sampai lingkungan terganggu."

    Namun, Edhy berencana memberlakukan aturan kuota untuk ekspor benih lobster, selayaknya pernah diterapkan pada komoditas lain. "Untuk membesarkan sendiri kan harus dibangun infrastrukturnya. Sambil menunggu ini, kita kasih kuota sampai waktu tertentu boleh ekspor. Kan banyak komoditas lain yang dilakukan seperti itu, pasir besi, nikel," ujar Edhy.

    Ia mengatakan kebijakan ekspor benih lobster itu dilakukan selama Indonesia masih belum bisa membesarkannya sendiri. Sementara, untuk membesarkan lobster diperlukan infrastruktur. "Sama seperti untuk pasir besi dan nikel, awalnya boleh diekspor tapi pengusaha harus membuat refinery," tuturnya. Meski demikian rencana tersebut masih dalam taraf kajian.

    Belakangan rencana Edhy itu memang menimbulkan pro kontra di masyarakat. Salah satunya muncul dari Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang getol menyuarakan penolakan ekspor bibit lobster. Hal itu dia sampaikan melalui akun Twitternya @susipudjiastuti.

    Dia mengatakan lobster belum bisa di-breeding in house atau budidaya ternak. Semua bibit lobster saat ini, kata dia, berasal dari alam. "Negara lain yang punya bibit tidak mau jual bibitnya. Kecuali kita, karena bodoh," kata Susi di Twitter, Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019.

    Menurutnya, budidaya lobster di Vietnam hanya membesarkan, tidak ternak secara langsung. "Dan hanya dari Indonesia mereka bisa dapat (bibit), lewat singapura atau yang langsung," ujarnya.

    Susi mengatakan lobster yang bernilai ekonomi tinggi tidak boleh punah hanya karena ketamakan menjual bibit. Bahkan, kata dia, ada yang menjual bibit dengan harga tidak sampai satu per seratus dari harga pasaran di luar negeri. "Astagfirullah, karunia Tuhan tidak boleh kita kufur akan nikmat dari-Nya," kata dia.

    Menurut dia, satu ekor bibit lobster mutiara dijual seharga Rp 100 ribu sampai maksimal Rp 200 ribu. Kalau sudah besar satu ekor misalnya jadi 800 gram dikalikan harganya Rp 5 juta per kilogram, maka yang satu ekor tadi jadi Rp 4 juta. Dengan begitu ada nilai keuntungan kali lipatnya.

    CAESAR AKBAR | HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.