PLTP Muara Laboh Mulai Beroperasi Komersial

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tak Hanya Kejar Target, Proyek PLTP Harus Dukung Ekonomi Lokal.

    Tak Hanya Kejar Target, Proyek PLTP Harus Dukung Ekonomi Lokal.

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Supreme Energy Muara Laboh (SEML), perusahaan patungan PT Supreme Energy, ENGIE dan Sumitomo Corp mulai mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Tahap-1 Muara Laboh secara komersial. Pembangkit listrik  yang berlokasi di di Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat itu memiliki kapasitas 85 megawatt (MW) net.

    Founder & Chairman PT SupremeEnergy, SupramuSantosa mengatakan, setelah beroperasi komersial, selanjutnya, listrik akan dipasok ke jaringan listrik Sumatera milik PT PLN (Persero). Listrik itu akan dapat didistribusikan ke kurang lebih 340.000 rumah tangga.

    Supramu mengatakan, COD PLTP Muara Laboh Tahap-1 dan rencana pengembangan Tahap-2 merupakan bukti komitmen yang sangat kuat dari Supreme Energy dan mitra internasionalnya terhadap pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Pengembangan energi terbarukan ini untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam mencapai sasaran bauran energi tahun 2025.

    "Kami sangat menghargai atas dukungan yang kuat dan terus menerus dari Pemerintah, PLN dan masyarakat Solok Selatan khususnya selama kegiatan eksplorasi dan pengembangan," kata Supramu dalam keterangan tertulis, Senin, 16 Desember 2019.

    Dia mengatakan PT Supreme Energy memulai studi pendahuluan dalam proyek pengembangan PLTP Muara Laboh pada tahun 2008, dilanjutkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik atau Power Purchase Agreement/PPA, pada tahun 2012. Terakhir, dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi. Total investasi untuk pengembangan tahap-1 itu mencapai US$ 580 juta.

    Saat ini, kata Supramu, PT Supreme Energy juga dalam tahap pembicaraan dengan PLN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk pengembangan Tahap-2 dengan kapasitas 65 MW. Pengembangan ini membutuhkan investasi US$ 400 juta dan akan segera dimulai setelah negoisasi PPA selesai.

    Melalui PT Supreme Energy Rajabasa (SERB), PT Supreme Energy juga sedang mempersiapkan program eksplorasi untuk Wilayah Kerja Panas bumi Gunung Rajabasa yang berlokasi di Wilayah Kabupaten Lampung Selatan Propinsi Lampung. "Kegiatan eksplorasi akan dimulai segera setelah negoisasi perpanjangan PPA dengan PLN selesai," kata Supramu.

    PT Supreme Energy, menurutnya, juga sedang membangun Proyek PLTP Rantau Dedap berkapasitas 90 MW di Sumatera Selatan. Proyek pengembangan yang digarap oleh PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) ini dijadwalkan selesai pada akhir tahun 2020. Untuk menyelesaikan proyek ini, SERD akan berinvestasi sekitar US$ 700 juta.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.