BPS Sebut Impor Barang Konsumsi Mayoritas Apel dan Jeruk Mandarin

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pohon jeruk Kim Kit diberikan hiasan imlek dijual di Meruya, Jakarta, Senin 28 Januari 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Pohon jeruk Kim Kit diberikan hiasan imlek dijual di Meruya, Jakarta, Senin 28 Januari 2019. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Pusat Statistik atau BPS menyatakan, berdasarkan golongan penggunaan barang, impor barang konsumsi tercatat sebesar US$ 1,66 miliar sepanjang November 2019. Angka itu meningkat 16,13 persen secara bulanan (mtm) atau sebesar US$ 231,7 juta.

    "Impor barang konsumsi tersebut paling banyak terjadi untuk komoditas Apel dan Jeruk Mandarin dari Cina serta white refine sugar dari Thailand," ujar Kepala BPS Suhariyanto saat mengelar konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin 16 Desember 2019.

    Kendati secara presentase cukup besar, secara nilai impor barang konsumsi tersebut masih lebih kecil dibandingkan impor bahan baku atau bahan penolong dan impor barang modal. Namun, kedua kategori impor tersebut sama-sama mencatatkan kenaikan.

    Impor bahan baku misalnya mengalami kenaikan sebesar 2,63 persen menjadi US$ 11,16 miliar atau naik US$ 286,5 juta. Sedangkan impor barang modal mengalami kenaikan sebesar 2,58 persen menjadi US$ 2,50 miliar atau naik sebesar US$ 62,9 juta.

    BPS mencatat, posisi impor sepanjang November 2019 mengalami kenaikan sebesar 3,94 persen atau US$ 581,1 juta menjadi US$ 15,34 miliar secara bulanan. Namun, dibandingkan November 2018, angkanya menurun 9,24 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hasil Sensus 2020 yang Menentukan Penentuan Kebijakan Pembangunan

    Akan ada perbedaan pada penyelenggaraan sensus penduduk yang ketujuh di tahun 2020. Hasil Sensus 2020 akan menunjang penentuan kebijakan pembangunan.