Soal Ekspor Benih Lobster, Edhy Prabowo Tak Masalah Dipojokkan

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Benih lobster yang akan diselundupkan di Jambi, 17 April 2019. Polisi berhasil mengagalkan upaya penyelundupan benis lobster senilai Rp 37 miliar. (Humas KKP)

    Benih lobster yang akan diselundupkan di Jambi, 17 April 2019. Polisi berhasil mengagalkan upaya penyelundupan benis lobster senilai Rp 37 miliar. (Humas KKP)

    TEMPO.CO, JakartaMenteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan tidak ada masalah terhadap maraknya perdebatan di masyarakat soal rencana membuka kembali keran ekspor benih lobster. Menurut dia, para pengambil kebijakan sudah pasti akan menghadapi tantangan seperti itu.

    "Menurut saya itu hal yang lumrah, mau dipojokkan dibilang ikut terlibat penyelundupan, enggak apa-apa, jangan panas," ujar Edhy di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin, 16 Desember 2019.

    Edhy menilai segala macam pro dan kontra yang menghantamnya merupakan penguatan rencana. Sehingga ia merasa tidak boleh ragu. "Kalau kita yakin dengan rencana kita membangun kepentingan masyarakat dan negara, apa saja yang akan menghantam kita itu adalah penguatan rencana."

    Ke depannya, Edhy bercita-cita agar Indonesia bisa membesarkan lobster sendiri. Mengingat, Indonesia adalah penghasil benih lobster terbanyak di dunia dan benih tersebut dihasilkan di banyak wilayah. "Kenapa kita tidak berpikir untuk melakukan pembesaran sendiri saja?"

    Kata Edhy, Indonesia memiliki banyak tempat dari Sabang sampai Merauke untuk membesarkan benih lobster. Bahkan, ia mengatakan ada banyak teluk panjang untuk pembesaran itu layaknya di Vietnam. Adapun benih lobster paling banyak dijumpai di Lombok dan Jawa. Karena itu, ia meyakini pembesaran itu bisa dimulai, terutama dengan adanya dukungan dari pemerintah.

    Salah satu kendala dalam melakukan pembesaran adalah soal infrastruktur pendukung. Karena itu, ia mengatakan sembari menunggu kesiapan di dalam negeri, ekspor benih lobster bisa dilakukan dengan kuota dan persyaratan tertentu. Di samping itu, nantinya pembesar lobster juga mesti melakukan restocking alias mengembalikan lobster kembali ke alam setidaknya 2-5 persen.

    Saat ini, budidaya memang belum dimungkinkan dilakukan. Sebab, manusia masih belum bisa melakukan breeding. Menurut Edhy, berdasarkan penelitian, percobaan budidaya baru menghasilkan benur yang hidup 30-40 hari, setelah itu mati. "Kalau satu sampai 30 hari sudah ada ujinya berarti ada upaya hingga dia bisa menjadi besar," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hasil Sensus 2020 yang Menentukan Penentuan Kebijakan Pembangunan

    Akan ada perbedaan pada penyelenggaraan sensus penduduk yang ketujuh di tahun 2020. Hasil Sensus 2020 akan menunjang penentuan kebijakan pembangunan.